Hukum

Tak Terima Pernyataan Waket Dewan Adat Keerom, Welem Yoku: Secara Adat Dia Harus Denda 10 Miliar

634
×

Tak Terima Pernyataan Waket Dewan Adat Keerom, Welem Yoku: Secara Adat Dia Harus Denda 10 Miliar

Sebarkan artikel ini
IMG 20240612 WA0138 jpg
Welem Yoku selaku Kepala suku Yoku dan juga tokoh pemuda perbatasan Kabupaten Keerom, Papua.

Berita Papua, Jayapura — Tak terima pernyataan Wakil Ketua 1 Dewan Adat Keerom (DAK) Laurensius Borotian, yang menyebutkan marga Yoku tidak ada didalam suku besar di Kabupaten Keerom, Welem Yoku dan beberapa kepala suku angkat bicara.

Selaku kepala suku Yoku Skanto di Kabupaten Keerom, Welem menyebut, Waket DAK harus membayar denda karena tidak menghargai adat dari suku Yoku.

“Secara adat dia (Laurensius Borotian) harus denda adat 10 Miliar. Tidak menghargai suku besar kami, dan masih berutang sejak nenek moyang kami,” tegasnya di Jayapura, Rabu malam (12/6/24).

“Tidak ada alasan apapun, karena sudah mempermalukan keluarga kami dan suku besar kami,” tambahnya.

Bahkan Welem juga menyebut, bakal menuntut pernyataan tersebut ke para-para adat dan juga ranah hukum.

“Kami akan lapor ke Polda Papua. Dan kepada suku Yoku akan menyurat kepada dewan adat untuk segera bikin pertemuan adat. Kita akan selesaikan masalah ini di para-para adat,” ungkapnya.

Sebagai keturunan ningrat, Welem mengaku sangat menyesalkan pernyataan Waket DAK.

“Saya rasa sayang pernyataan dari Laurens Borotian yang notabenenya sebagai Wakil Ketua Dewan Adat Keerom yang belum tahu kapan dilantik, kapan pemilihan struktur Dewan Adat Keerom itu,” bebernya.

“Jadi saudara harus mempertanggungjawabkan apa yang saudara buat kepada kami suku Yoku, Suku Anken Tuai Bigi, Yoku Anken Tuai Bigi,” tambahnya.

Welem Yoku juga sedikit menjelaskan sebagai kepala suku besar dan keberadaan keturunan Yoku di Skanto Kabupaten Keerom.

“Saya suku Yoku Tua Bigi, Anken Tua Bigi yang berdiam diri di Kampung Skanto. Punya tanah adat, punya marga, punya batas dusun, punya batas tanah, dan saya rasa sayang dan saya akan tuntut nama baik saya, marga Yoku Tuai Bigi, Yoku Anken kita akan tuntut kepada saudara Laurens Borotian harus mempertanggungjawabkan itu. Dia siap denda secara adat,” katanya.

Padahal menurut Welem, penyataan yang dilontarkannya di media bukan kepada Waket DAK namun kepada Bupati Keerom untuk menyuarakan nasib CPNS.

“Persoalan saya dengan pak Piter Gusbager terkait dengan masalah SK CPNS yang sudah jelas-jelas adalah penipuan itu yang kami sampaikan, bukan kami berurusan dengan saudara Laurens Borotian,” pungkasnya.

Geram dengan pernyataan Waket DAK, Kepala suku Elseng di Kabupaten Keerom, Didimus Urare pun angkat bicara. Dia menyebut, statement Waket DAK, Laurensius Borotian telah mencemarkan nama baik keluarga besar.

“Saya dewan adat Skanto tidak setuju stetmen saudara Laurens Borotian keluarkan itu. Sudah mencemarkan nama baik kami suku besar Auyi Wii dan Kaya dan juga saya mau sampaikan kalau belum tahu arti dari Wii dan kaya lebih baik stop, jangan bicara,” tegasnya.

(Renaldo Tulak)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *