Berita Papua, Sorong — Perhimpunan Masyarakat Toraja Indonesia (PMTI) Kota Sorong menggelar Festival Budaya dan Kuliner Masyarakat Toraja dan Mooi Asli Kota Sorong selama 3 hari, mulai 3 hingga 5 Desember 2024.
Kegiatan yang berlangsung di Gedung Tongkonan Toraya, Jalan Malibela, Kelurahan Klawalu, Distrik Sorong Timur ini bertujuan mendorong perkembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di wilayah Kota Sorong.
Pdt. Yohanis Sattu, Ketua PMTI Kota Sorong, menjelaskan bahwa festival ini merupakan bentuk kolaborasi antara masyarakat Toraja, masyarakat Mooi, dan pelaku UMKM lainnya di Kota Sorong untuk berkontribusi dalam pembangunan ekonomi daerah.
“Masyarakat Toraja secara aktif mendorong perkembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), baik dari kalangan masyarakat Mooi Sorong maupun khususnya Toraja di Kota Sorong, Papua Barat Daya,” ujar Sattu.
Menurut Sattu, inisiatif ini dirancang untuk mempromosikan produk lokal dan meningkatkan perekonomian daerah, terutama melalui sektor pariwisata dan budaya. Festival yang dikemas dengan menampilkan ragam budaya dan kuliner khas bertujuan menciptakan sinergi antarwarga untuk saling mendukung pengembangan usaha.

“Saling mendorong satu dengan yang lain sehingga dalam sepanjang tahun ini, ada berkat-berkat yang kita dapatkan. Kita bisa berbagi bagi mereka yang sedang berupaya untuk mengembangkan diri melalui usaha-usaha,” tegasnya.
Festival 3 hari ini dijadwalkan ditutup bersamaan dengan perayaan Natal bersama, sebagai wujud kebersamaan lintas komunitas di Kota Sorong.
Acara ini juga menjadi momentum bagi masyarakat Toraja untuk merayakan Natal secara kolektif, tanpa terbatas pada kelompok atau rayon tertentu.
Kota Sorong memiliki potensi ekonomi yang besar, tidak hanya sebagai daerah penghasil utama minyak dan gas (migas), tetapi juga di sektor perikanan. Wilayah ini kaya akan hasil laut, sementara Sorong Selatan memiliki potensi sagu dan udang yang melimpah.
Festival Budaya dan Kuliner Masyarakat Toraja dan Mooi Sorong ini menjadi contoh konkret bagaimana kolaborasi antarkomunitas dapat mendorong pertumbuhan ekonomi kerakyatan dan memperkuat persaudaraan di tengah keberagaman masyarakat Papua Barat Daya.
(Jeri Degei)











