Papua Tengah

Jurnalis Jubi Berbagi Teknik Peliputan Jurnalisme Lingkungan di Festival Media Se-Tanah Papua

0
×

Jurnalis Jubi Berbagi Teknik Peliputan Jurnalisme Lingkungan di Festival Media Se-Tanah Papua

Sebarkan artikel ini

Berita Papua, Nabire –– Jurnalis perlu memposisikan diri sebagai jembatan antara masyarakat dan pemerintah, terutama dalam peliputan isu lingkungan yang kerap menempatkan masyarakat sebagai pihak yang rentan dirugikan.

Hal ini disampaikan Albert Yomo, jurnalis Tabloid Jubi, dalam workshop bertema “Hutan Papua Bercerita: Teknik Menulis Jurnalisme Lingkungan Lokal” pada Festival Media Se-Tanah Papua perdana di Nabire, 13-15 Januari 2026.

Workshop yang dimoderatori Yulika Anastasia, Head of Imaji, dan menghadirkan narasumber Albert Yomo bersama rekannya sesama jurnalis Jubi, Dominggus Mampioper, ini memberikan pemahaman praktis tentang teknik peliputan isu lingkungan berbasis pengalaman lapangan.

Dalam sesi workshop, Yomo membagikan pengalamannya melakukan peliputan proyek bersama Pulitzer Center tentang perubahan iklim di Teluk Wondama.

“Kami banyak memberikan pengalaman tentang apa yang kami lakukan dalam menulis untuk proyek bersama Pulitzer Center. Jadi tentang liputan soal perubahan iklim di Wondama,” ungkap Yomo dalam wawancara usai workshop, Kamis (15/1/2026).

Ia menjelaskan secara detail tahapan-tahapan peliputan, mulai dari menyiapkan proposal, mengajukan liputan, hingga menawarkan ide ke pendonor.

“Teknik-teknik itu yang tadi kami jelaskan. Kita harus mulai dengan apa, sesudah disetujui apa yang harus kita lakukan. Kita buat perencanaan liputan: siapa yang diundang jadi narasumber, kemana kita pergi, isunya apa, sudut pandangnya seperti apa. Semua kita buat,” paparnya.

Yang menarik, Yomo menekankan pentingnya sikap jurnalis dalam meliput isu lingkungan. Menurutnya, dari pertanyaan-pertanyaan peserta, banyak yang mempertanyakan bagaimana seharusnya sikap jurnalis terhadap isu lingkungan.

“Jurnalis itu tetap berada pada posisi rakyat. Kita selalu berharap proses kesepakatan antara masyarakat dan pemerintah dilakukan dengan benar, kita akan senang. Tapi kalau tidak dilakukan dengan benar, pasti masyarakat akan jadi korban,” tegasnya.

Yomo menjelaskan bahwa walaupun pembahasan ini tidak sepenuhnya sesuai dengan topik workshop, namun ini menjadi cara pandang penting dari peserta yang perlu dijawab.

“Posisi wartawan, kalau masyarakat alami masalah, kita sebagai jembatan,” tambahnya.

Mengomentari penyelenggaraan Festival Media Papua perdana ini, Yomo memberikan apresiasi positif. Ia menilai dari hari pertama hingga hari ketiga, festival berlangsung dengan baik, aman, dan lancar.

“Kalaupun ada kekurangan, jadi lumrah, jadi wajar karena ini baru pertama kali terjadi. Jadi kita lakukan, nanti kita akan sempurnakan hal-hal yang kurang di kemudian hari,” ujarnya.

Festival Media Se-Tanah Papua yang diinisiasi Asosiasi Wartawan Papua (AWP) ini digelar selama 3 hari di Nabire, menghadirkan 149 jurnalis dari 6 provinsi di Tanah Papua, serta pelajar dan mahasiswa.

Berbagai kegiatan diselenggarakan, termasuk workshop jurnalisme lingkungan, pelatihan jurnalistik investigasi, talk show, pameran foto, dan malam penganugerahan Papua Jurnalistik Award 2026.

(Renaldo Tulak)