Saireri

ODHA di Yapen Capai 1.611 Kasus, Kadinkes Pinta Bagi Yang Terpapar Membuka Diri

23
×

ODHA di Yapen Capai 1.611 Kasus, Kadinkes Pinta Bagi Yang Terpapar Membuka Diri

Sebarkan artikel ini
Info grafis penyebaran HIV-AIDS di Kepulauan Yapen yang dikeluarkan Dinas Kesehatan

BeritaPapua.co, Serui — Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Yapen merilis angka sebaran kasus HIV/AIDS beberapa tahun terakhir yang terus mengalami peningkatan hingga ditahun 2022 lalu telah mencapai 1611 kasus.

Dalam info grafis yang dikeluarkan secara resmi oleh Dinas kesehatan ini ikut menyertakan sebaran penyakit menular ini di 16 distrik di kabupaten kepulauan Yapen dan sejauh ini telah menelan korban sebanyak 402 jiwa.

Kepada awak media ini Kepala Dinas Kesehatan, Karolis Tanawani saat ditemui diruang kerjanya mengemukakan bahwa jumlah kasus HIV-AIDS berjumlah kurang lebih 1611 ini, upaya-upaya intervensi yang dilakukan oleh Dinas kesehatan setelah melakukan MOU dengan beberapa elemen dalam hal ini seperti Klasis dan LSM-LSM yakni melaksanakan edukasi dan penyuluhan dibeberapa tempat-tempat yang mempunyai potensi menularkan virus ini.

“Kami melaksanakan edukasi penyuluhan-penyuluhan, kemudian secara teknis juga dilakukan pembagian kondom dan kami juga lakukan tracking atau pelacakan,” ucap Karolis, Selasa (17/1/23).

Dikatakan pelacakan kasus ini bila didapati pihaknya akan meminta yang bersangkutan jika kondisi sakitnya agak berat maka dirujuk ke Rumah Sakit agar ditangani oleh dokter ahli penyakit dalam namun ketika di rekomendasi dokter ahli penyakit dalam terhadap tindak lanjut dari penanganan itu adalah bagaimana supaya ODHA ini dapat mengkonsumsi obat ARV (red-antiretroviral).

Menurutnya obat antiretroviral sampai hari ini merupakan obat yang sangat bagus untuk dikonsumsi oleh ODHA (Orang Dengan HIV-AIDS) karena apa?, meski penyakit virus HIV ini sampai kini belum ada obatnya tetapi dengan hadirnya ARV, obat yang tidak membunuh kuman HIV ini tetapi dapat menekan laju virus dalam tubuh atau darah.

“Ketika virus itu ditekan dia tidak bisa berkembang lagi dengan virus ini tidak bisa berkembang otomatis nanti kita pacu dengan perbaikan gizinya maka otomatis berat badannya akan naik dan kasus ini sudah terbukti,” ujar Karolis.

Oleh sebab itu lanjutnya ketika seseorang yang berpotensi terpapar HIV langkah awal yang diharapkan dan butuhkan adalah bagaimana orang itu bisa terbuka apabila dia ingin hidupnya baik dan terus terbuka maka dengan adanya keterbukaan para petugas kesehatan pun akan membantu dia untuk mendatangi klinik dan memberikan edukasi sampai yang bersangkutan mendapatkan ARV.

“Yang perlu diingat bahwa ketika seseorang sakit yang diakibatkan oleh virus itu berbagai macam virus itu sudah ada dalam tubuh, jadi kalau dia mau menutup dirinya. Bagaimana penyakit itu mau disembuhkan kalau orangnya tidak terbuka,” imbuhnya.

Oleh karena itu Karolis berharap para petugas-petugasnya bisa melakukan edukasi dan konseling untuk meyakinkan teman-teman atau masyarakat yang selama ini punya profesi berpotensi terpapar dengan virus HIV ini, sebab ketika sudah terpapar maka potensi mendapat HIV itu ada maka salah satu jalan untuk bisa mempertahankan harapan hidup itu bagaimana bisa membuka diri.

“Kita harapkan dapat membuka diri kepada petugas-petugas kami yang sudah terlatih untuk bagaimana bisa membantu ODHA supaya bisa meningkatkan harapan hidupnya,” kata Karolis.

Selaku kepala dinas Kesehatan bersama direktur Rumah sakit telah berusaha sehingga obat ARV ini sudah tersedia di RSUD Serui dan tidak perlu keluar daerah lagi untuk mendapatkannya.

Selain itu dirinya selaku kepala dinas Kesehatan tengah berusaha sambil melengkapi persyaratan yang ada agar dinas kesehatan provinsi dapat langsung mendistribusikan obat ARV ini ke Puskesmas-puskesmas di Yapen Karena penyakit ini sudah begitu menyebar di masyarakat dan angkanya cukup tinggi sehingga dirinya menginginkan agar obat ini harus sudah tersedia di puskesmas.

“Dengan adanya obat ini di puskesmas-puskesmas penanganan kasus di distrik itu bisa ditangani langsung di puskesmas dan tidak perlu dibawah lagi ke Rumah sakit di Serui karena kita juga sudah mempersiapkan para dokter-dokter dan perawat-perawat kita yang terus dilatih agar mereka bisa menangani kasus Ini,” harapnya.

Pada kesempatan itu, Kadis Karolis Tanawani mengingatkan kepada masyarakat di Kabupaten Kepulauan Yapen jika bekerja di lingkungan yang mempunyai potensi terpapar dengan virus HIV tidak segan-segan mendatangani petugas kesehatan, membuka diri agar mendapatkan pendampingan melalui berbagai proses-proses sampai ditangani dokter ahli dan mendapat obat ARV.

“Kalau sudah dapat ARV percaya pasti perubahan tubuh itu akan berubah jauh sekali sebab kami sudah punya contoh-contoh kasus yang setelah pasien ODHA itu mengkonsumsi ARV ternyata terjadi perubahan luar biasa sekali dan orangnya sehat-sehat sampai hari ini,” tandas Tanawani.

Diakhir Karolis berpesan bahwa mengkonsumsi ARV itu baik karena sekalipun berhubungan dengan orang lain virus ini tidak menular karena virus ini telah ditekan oleh obat ARV apalagi obat ini sekarang dikemas untuk diminum 1 butir dalam 1 hari seumur hidup berbeda dengan waktu lalu yang satu kali konsumsi sebanyak 8 butir.

” Ini harapan kami semoga kedepan masyarakat semua harus bisa terbuka tidak usah takut-takut, penyakit ini bukan penyakit kutukan tetapi akibat dari perilaku kita, ini bukan perilaku yang secara langsung tetapi misalnya contoh ada ibu-ibu yang di rumah. Mereka tidak berharap bisa terpapar tapi karena bapak-bapak suka berjalan sembarang di luar, ini kan bisa bawa ke ibu-ibu yang sama sekali tidak tahu persoalan,” pungkasnya.

(AG)