Berita Papua, Jayapura — Stasiun Geofisika Kelas I Jayapura mencatat aktivitas seismik yang sangat tinggi di Pulau Papua sepanjang tahun 2025. Sebanyak 5.141 kejadian gempa bumi terekam oleh jaringan monitoring BMKG, mulai dari wilayah Sorong di bagian barat hingga Jayapura di timur.
Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Jayapura, Herlambang Hudha, merinci distribusi gempa berdasarkan kekuatan magnitudo. Gempa dengan magnitudo di bawah 3 (M<3) tercatat sebanyak 3.799 kejadian, gempa dengan magnitudo antara 3 hingga 5 sebanyak 1.341 kejadian, dan gempa dengan magnitudo di atas 5 (M>5) sebanyak 18 kejadian.
“Dari segi kedalaman, gempa dangkal dengan kedalaman kurang dari 60 kilometer mendominasi dengan 4.856 kejadian. Gempa menengah pada kedalaman 60-300 kilometer tercatat 284 kejadian, dan satu kejadian gempa dalam dengan kedalaman lebih dari 300 kilometer,” ungkap Herlambang dalam laporan ensiklopedia gempa bumi 2024 kepada BeritaPapua.co, Jumat malam (2/1/2026).
Dari ribuan gempa yang terjadi, sebanyak 125 gempa dirasakan oleh masyarakat. Rinciannya, 12 gempa dengan magnitudo di bawah 3, 102 gempa dengan magnitudo 3-5, dan 11 gempa dengan magnitudo di atas 5.
Tahun 2024 juga mencatat 2 gempa merusak yang keduanya terjadi di Kabupaten Sarmi. Gempa pertama berkekuatan M 6,4 mengguncang wilayah tenggara Sarmi pada 12 Agustus 2024 dengan kedalaman 27 kilometer. Gempa ke-2 dengan kekuatan lebih besar, M 6,6, terjadi pada 16 Oktober 2024 di lokasi yang sama.
Ke-2 gempa tersebut mengakibatkan kerusakan di sejumlah wilayah Kabupaten Sarmi, meliputi kerusakan infrastruktur dan bangunan rumah warga.
Berdasarkan data kejadian gempa bumi sepanjang 2024, Herlambang menegaskan bahwa Pulau Papua dan sekitarnya, termasuk Kota Jayapura, merupakan daerah dengan tingkat seismisitas sangat tinggi.
“Kami menghimbau kepada masyarakat untuk selalu waspada dengan kondisi lingkungan masing-masing. Tingkatkan kewaspadaan terhadap gempa bumi dan kejadian ikutannya seperti tsunami, longsor, likuifaksi, dan gagal struktur,” tegas Herlambang.
BMKG juga mengimbau masyarakat Papua untuk memahami protokol keselamatan saat terjadi gempa, memastikan bangunan tempat tinggal memenuhi standar tahan gempa, dan mempersiapkan jalur evakuasi serta tas siaga bencana.
Papua berada di zona pertemuan lempeng tektonik yang sangat aktif, menjadikan wilayah ini rentan terhadap aktivitas gempa bumi. Kesadaran dan kesiapsiagaan masyarakat menjadi kunci utama dalam mitigasi risiko bencana gempa bumi di wilayah ini.
(Renaldo Tulak)











