Berita Papua, Port Moresby — 3 perguruan tinggi asal Tanah Papua, yaitu Universitas Papua (UNIPA), Universitas Cenderawasih (UNCEN), dan Universitas Okmin Papua (UOP), bersama sejumlah universitas dari Papua Nugini dan Kepulauan Solomon, menandatangani Memorandum of Agreement (MoA) yang menandai pembentukan Bismarck Solomon Seascape (BSS) Science Hub – University Partnership.
Dalam siaran pers, penandatanganan berlangsung dalam rangkaian Melanesian Ocean Summit 2026 di APEC Haus, Port Moresby, Papua Nugini, pada Kamis (14/5). Acara konferensi tersebut dihadiri lebih dari 50 perwakilan dari perguruan tinggi, pemerintah, LSM, lembaga riset, serta mitra pembangunan regional dan internasional.
Kesepakatan trilateral ini resmi berada di bawah kerangka Coral Triangle Initiative on Coral Reefs, Fisheries and Food Security (CTI-CFF). Fokus utama kemitraan meliputi penguatan riset pesisir dan kelautan, inovasi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta pengembangan kebijakan publik berbasis keilmuan di kawasan Bismarck Solomon.
Inisiatif strategis ini mendapat dukungan penuh dari jaringan WWF (WWF Indonesia, WWF Papua New Guinea, WWF Solomon Islands, dan WWF Pacific) serta mitra pembangunan lainnya. WWF Indonesia berperan aktif mendampingi perguruan tinggi dan pemerintah daerah, serta berkoordinasi intensif dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Republik Indonesia untuk memastikan kelancaran proses pengembangan hingga penandatanganan kesepakatan.
Pemerintah Provinsi Papua dan Pemerintah Kabupaten Pegunungan Bintang juga menunjukkan komitmen serupa. Dukungan ini dinilai krusial untuk menyelaraskan kebijakan pembangunan, upaya konservasi, peningkatan kapasitas masyarakat adat, serta penguatan jejaring kerja sama lintas negara di kawasan Pasifik dan Coral Triangle.
Berdasarkan naskah kesepakatan, BSS Science Hub akan menjalankan sejumlah program strategis, antara lain:
· Kolaborasi riset dan publikasi bersama,
· Pertukaran dosen dan mahasiswa,
· Penyelenggaraan simposium ilmiah dan sekolah lapangan (field school),
· Pengembangan sistem berbagi pengetahuan.
Ke depan, Hub ini diproyeksikan menjadi wadah pembelajaran kolaboratif (exchange learning) dan pertukaran pengalaman (peer-to-peer learning) yang inklusif antara akademisi, masyarakat adat, komunitas lokal, LSM, dan praktisi pelestarian lingkungan.
Seluruh pihak menegaskan bahwa tata kelola kelautan yang berkelanjutan menuntut integrasi antara sains modern, kebijakan publik, dan kearifan ekologis tradisional, dengan masyarakat adat dan komunitas pesisir sebagai garda terdepan penjaga ekosistem laut.
Kemitraan ini diarahkan untuk mendukung program dan kebijakan strategis pemerintah di tingkat daerah maupun nasional, demi terwujudnya pembangunan inklusif di kawasan Bismarck Solomon Seascape dan Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle).
(Redaksi)











