Berita Papua, Jayapura — Keondofoloan Kampung Waena menggelar bakti sosial di kediaman Ondofolo Kampung Waena, Distrik Heram, Kota Jayapura, Selasa (22/9/2026), dalam rangka memperingati Hari Tani Nasional.
Kegiatan tersebut digelar untuk memperkokoh lumbung kampung sebagai penopang ketahanan pangan nasional di tanah Papua.
Bakti sosial tersebut dihadiri sejumlah tokoh adat, tokoh agama, serta 75 warga Kampung Waena yang didominasi kaum ibu. Dalam kegiatan itu, warga yang hadir menerima bantuan berupa bibit cabai dan beras.

Ondofolo Kampung Waena, Richard Ohee dalam sambutannya mengatakan tanah, hutan, air, dan hasil bumi merupakan sumber kehidupan masyarakat Papua yang harus dijaga secara turun-temurun.
“Tanah bukan sekadar tempat berpijak, tetapi warisan leluhur yang harus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujar Ohee.
Ia menambahkan, lumbung kampung merupakan kekuatan bersama yang dapat dibangun melalui pengembangan kebun dan pangan lokal seperti sagu, keladi, ubi, pisang, sayuran, lombok, hingga ikan. Menurutnya, langkah ini dapat memperkuat ketersediaan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat kampung.
“Pemberian bibit lombok kepada masyarakat menjadi langkah nyata untuk menghidupkan kembali kebun-kebun kampung. Bibit yang diberikan bukan sekadar bantuan, tetapi menjadi awal untuk menanam, merawat, memanen, dan mengembangkan pangan secara mandiri di lingkungan masyarakat,” katanya.
Ohee menegaskan masyarakat adat harus menjadi penggerak utama dalam membangun lumbung kampung, dengan memadukan pengetahuan leluhur tentang tanah, musim, tanaman, hutan, dan sumber air bersama pengetahuan serta teknologi masa kini.
Ia juga mendorong pelibatan generasi muda agar pertanian menjadi ruang berkarya, berinovasi, dan membangun ekonomi kampung.
“Mari kita tanam bibit hari ini untuk memanen harapan di masa depan. Mari hidupkan lumbung kampung, perkuat pangan lokal, jaga tanah dan alam, serta wariskan kehidupan yang lebih baik kepada anak cucu. Pangan yang berdaulat dimulai dari kampung yang kuat,” pungkasnya.
(Renaldo Tulak)











