Berita Papua, Sentani — Tokoh adat Ramses Wally meminta Panitia Pelaksana (Panpel) pertandingan Persipura Jayapura untuk memperketat pengawasan terhadap penggunaan kembang api atau flare serta praktik percaloan tiket jelang laga kandang tim kebanggaan Papua tersebut.
Pernyataan itu disampaikan Ramses di Sentani, Kamis (7/5/2026).
Ia juga dengan tegas menolak adanya konvoi atau masuknya atribut pendukung tim nasional Brasil dan Argentina ke Stadion Lukas Enembe karena dinilainya tidak relevan dengan pertandingan Persipura.
“Panpel harus lebih memperhatikan seluruh penonton yang akan datang. Mereka tidak boleh membakar kembang api atau flare yang berwarna merah. Itu bisa menjadi sanksi dari PSSI kepada Persipura,” ujar Ramses.
Ia menekankan bahwa dukungan kepada Persipura harus diberikan secara positif. Menurutnya, Persipura bukan sekadar klub sepak bola, melainkan identitas masyarakat Papua.
“Bicara Persipura adalah bicara tentang orang Papua dan bicara Persipura maka bicara tentang harga diri orang Papua. Marilah kita tunjukkan prioritas dan dukungan yang penuh kepada Persipura sehingga mereka bermain dengan semangat. Persipura bisa meraih kemenangan dan siap go Liga 1,” katanya.
Ramses juga mengingatkan Panpel yang membidangi penjualan tiket agar mengawasi harga tiket di lapangan. Ia menyebut harga resmi sudah ditentukan manajemen sehingga tidak boleh ada calo yang memainkan harga.
“Kalau harga tiket sudah ditentukan, dari Rp50.000 dinaikkan menjadi Rp75.000, yang tadinya Rp150.000 sudah naik menjadi Rp250.000 hingga Rp300.000, jangan ada lagi calo yang bermain harga tiket di luar dari harga yang sudah ditentukan. Hal ini membuat kekecewaan bagi masyarakat,” tegasnya.
Ia meminta Panpel bertanggung jawab menjaga wibawa penyelenggaraan pertandingan.
“Jangan kecewakan masyarakat dengan cara-cara kerja seperti ini. Sekalipun masyarakat kecewa, akibatnya juga fatal. Sebab penonton yang datang memberi dukungan dengan harga yang sudah ditentukan. Persipura adalah milik orang Papua,” kata Ramses.
Menanggapi isu konvoi pendukung Argentina dan Brasil menuju Stadion Lukas Enembe, Ramses menyatakan hal itu tidak ada hubungannya dengan Persipura. Ia meminta Panpel dan aparat keamanan untuk mencegah kelompok tersebut masuk.
“Kalau ada fans untuk mendukung Argentina dengan Brasil, saya rasa itu harus dicegah. Jangan masuk karena Persipura ini lagi bermain. Kalau Anda mau mendukung Brasil atau Argentina, pergi ke negaranya mereka. Tidak ada hubungan dengan Persipura hari ini bermain,” ujarnya.
Menurut Ramses, penonton wajib mengenakan kostum Persipura.
“Kalau memakai kostum lain, suruh dia buka dan pulangkan. Jangan masuk ke arena. Ini bukan ranahnya Argentina dengan Brasil. Ini ranahnya Persipura. Anda masuk harus dengan kostum Persipura,” tegasnya.
Ramses menyebut laga ini penting untuk mengantar Persipura kembali ke Liga 1. Ia berharap tidak ada praktik mafia bola yang menggagalkan langkah tim berjuluk Mutiara Hitam tersebut.
“Ini bukan ranah Piala Dunia, ini ranah untuk bagaimana mendukung Persipura masuk di Liga 1. Sekarang dia sudah bintang 4, maka dia akan merebut bintang 5. Seluruh kesebelasan di Indonesia juga harus menyadari bahwa tanpa Persipura masuk di Liga 1 maka itu bukan Indonesia,” katanya.
Ramses menyerukan untuk mengakhiri praktik mafia bola.
“Akhirilah mafia-mafia bola terhadap Persipura. Berikanlah dukungan, biarlah Persipura menunjukkan kapasitasnya, permainannya yang selama ini dia bermain sebagai pola-pola pemain dunia,” ujarnya.
“Persipura hari ini membuktikan bahwa saya ini adalah orang Papua. Saya adalah kulit hitam keriting rambut. Sekalipun bintang jatuh ke bumi pun, aku tetap Papua. Persipura jati diriku. Persipura adalah milik orang Papua,” pungkas Ramses.
(Yan Mofu)











