BeritaPapua.co, Jayapura — Renungan pada ibadah, Minggu sore (18/6) terambil dalam AlKitab perjanjian baru, Yunus 4 : 1-11, dengan perikop “Yunus Belajar Menginsyafi Bahwa Allah Mengasihi Bangsa-bangsa lain.”
Pdt Syahnur Abbas menjelaskan, Nabi Yunus disuruh oleh Tuhan Allah pergi ke Niniwe untuk memberitahukan kepada bangsa bahwa 40 hari lagi akan dibinasakan, namun Yunus menolak perintah Tuhan.
“Kenapa kita mau kasih tau supaya dorang dikasihi Tuhan dan diselamatkan, kasih biar saja supaya kita berkuasa,” ujarnya.
Kata pendeta, Yunus menolak karena begitu banyak di luar bangsa Israel yang menyembah berhala tetapi Tuhan begitu sayang kepada bangsa lain.
Bahkan Yunus melarikan diri dari perintah Tuhan ke Tarsus namun dalam pelariannya diatas kapal Tuhan hendak menenggelamkan kapal yang ditumpanginya. Akhirnya Yunus minta dibuang ke laut lalu ditelan ikan besar.
“Yunus diperut ikan 3 hari, dimuntahkan. Itu simbol panggilan Allah kepada dunia untuk menebus itu dilakukan oleh Yesus 3 hari didalam perut bumi dan 3 hari itu dia (Yesus) bangkit untuk menyerukan pertobatan kabar sukacita,” ucap pendeta dalam kotbahnya.
Namun masih karena hati yang iri, hari yang cemburu lagi Yunus memilih mati daripada hidup hanya karena Tuhan mengasihani bangsa lain, tetapi Tuhan masih terus menguji Yunus dalam panggilanNya.
“Semakin kita dekat dengan Tuhan tantangan itu ada dia berproses mendewasakan untuk tegar menghadapi soal, itu maksudnya,” kata pendeta.
Lalu dalam pelariannya lagi di sebuah pondok, Tuhan menumbuhkan pohon jarak untuk melindungi Yunus dari teriknya matahari tetapi keesokan harinya atas perintah Tuhan datanglah seekor ulat untuk melayukan pohon tersebut.
Segera sesudah matahari terbit, maka penentuan Allah bertiuplah angin timur yang panas terik, sehingga matahari menyakiti kepala Yunus, lalu rebahlah ia lesu dan berharap mati daripada hidup.
“Tetapi berfirmanlah Tuhan Allah kepada Yunus: ” Layakkah engkau marah karena pohon jarak itu?” Jawabnya: “Selayaknyalah aku marah sampai mati,” tercatat di Yunus 4 ayat 9.
Lalu Tuhan berfirman: ” Engkau sayang kepada pohon jarak itu, yang untuknya sedikit pun engkau tidak berjerih payah dan tidak engkau tumbuhkan, yang tumbuh dalam 1 malam dan binasa dalam 1 malam pula.
“Bagaimana tidak Aku sayang kepada Niniwe, kota yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari 120 ribu orang, yang semuanya tak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri, dengan ternaknya yang banyak?” jawab Tuhan kepada Yunus di Yunus 4 ayat 11.
Pdt Syahnur menyampaikan bahwa Kecemburuan, tidak bisa menerima hal yang baik untuk orang lain ada dalam takaran-takaran ini, tetapi orang yang dipanggil dalam Yesus Kristus mempunyai pikiran besar.
“Ia bicara tentang gagasan, ia bicara tentang ide. Kalau orang yang bicara tentang ide dan gagasan hasilnya adalah solusi,” tegasnya.
Kata dia, Hanya orang yang berpikiran besar melihat segala sesuatu positif akan membuktikan dia menerima kesuksesan besar.
“Jadi mari kita berpikir besar supaya kita mendapatkan jalan keluar solusi di setiap problem kita,” ujarnya.
Pdt Syahnur Abbas menambahkan, Yunus adalah pengalaman kita hamba-hamba yang berpikiran sempit, mengurung keselamatan itu bukan hanya untuk kita. Keselamatan bisa memiliki arti kalau diteruskan kepada orang lain.
“Kalau di kurung untuk diri sendiri hati-hati, keselamatan bisa berbalik menjadi hukuman. Karena kita menciptakan fanatisme hutang hanya mengurung di kelompok kita tanpa sadar kelompok kita digerogoti dengan kelakuan-kelakuan yang keluar dari koridor Tuhan,”
“Jadilah pembawa kebaikan bukti dari penyaluran keselamatan yang Allah telah memanggil kita jadi orang percayaNya dalam segala keadaan. Teruslah berbuat baik, teruslah menambur keselamatan dalam kehidupan ini,” pungkasnya amin mengakhiri ibadah.
(Renaldo Tulak)











