Papua

Bappenas dan USAID Dorong Peningkatan Kualitas Layanan Air Minum di Jayapura

157
×

Bappenas dan USAID Dorong Peningkatan Kualitas Layanan Air Minum di Jayapura

Sebarkan artikel ini
Tampak Tampak Tri Dewi Virgiyanti, Deputi Bidang Pengembangan Regional Bappenas dan Jeff Cohen, USAID Mission Director Indonesia didampingi Direktur Utama PT Air Minum Jayapura, Entis Sutisna saat melakukan rapat evaluasi di kantor PDAM Jayapura.

Berita Papua, Jayapura — Tri Dewi Virgiyanti, Deputi Bidang Pengembangan Regional Bappenas, bersama tim USAID melakukan kunjungan ke Jayapura guna mengevaluasi hasil program kerjasama USAID IUWASH Tangguh dalam meningkatkan kualitas dan layanan air minum.

Hal tersebut ia sampaikan saat melakukan kunjungan bersama Jeff Cohen, USAID Mission Director Indonesia dan jajaran ke kantor PDAM Jayapura pada, Kamis (12/9/24).

“Kami ingin memastikan kualitas air minum yang disediakan PDAM terjaga dengan baik, mulai dari sumber hingga ke titik-titik pantauan,” ujar Virgiyanti kepada media di Jayapura, Kamis (12/9/24).

Ia menjelaskan bahwa program kerjasama yang telah berlangsung selama 10 tahun ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas PDAM di berbagai daerah, termasuk Jayapura.

“10 tahun lalu, banyak PDAM menghadapi masalah seperti sambungan rumah yang terbatas, kebocoran pipa yang tinggi, bahkan tidak memiliki peta jaringan perpipaan. Kami membantu mereka memahami jaringan, melakukan investasi, dan meningkatkan kualitas layanan,” ungkapnya.

Meskipun ada kemajuan, Virgiyanti menyebut masih ada tantangan yang dihadapi, terutama dalam hal aliran air.

“Idealnya, layanan air harus tersedia 24 jam sehari, dengan toleransi berhenti hanya sehari dalam setahun,” tegasnya.

Bahkan Virgiyanti menjelaskan bahwa tantangan lain yang disoroti adalah cakupan layanan yang masih terbatas dari segi kemampuan dan kemauan masyarakat untuk membayar.

“Masyarakat sudah mulai membandingkan dengan harga air galon yang ternyata dua kali lipat lebih mahal dari tarif PDAM,” jelasnya.

“Media bisa membantu mengedukasi bahwa air PDAM sebenarnya lebih terjangkau dan aman dibandingkan sumber air lain yang kualitasnya tidak terjamin,” pungkasnya.

Tampak Tampak Tri Dewi Virgiyanti, Deputi Bidang Pengembangan Regional Bappenas dan Jeff Cohen, USAID Mission Director Indonesia didampingi Direktur Utama PT Air Minum Jayapura, Entis Sutisna saat melakukan rapat evaluasi di kantor PDAM Jayapura.

Sementara itu, Direktur Utama PT Air Minum Jayapura, Entis Sutisna menyebut, bahwa dengan kerjasama itu PDAM meraih prestasi membanggakan selama 10 tahun terakhir.

“Selama 10 tahun terakhir, USAID melalui program IUWASH Plus dan Tangguh telah memberikan pendampingan yang signifikan kepada kami,” ujar Sutisna.

Entis mengatakan bahwa kerjasama ini difasilitasi oleh Bappenas dan menjadi kebanggaan serta bentuk kepercayaan terhadap PDAM Jayapura.

Sutisna menjelaskan bahwa bantuan USAID bukan dalam bentuk fisik, melainkan pengembangan kemampuan dan keterampilan karyawan.

“Kami mendapatkan pendampingan dan pelatihan terkait sistem informasi geografis. Hasilnya, 90% jaringan perpipaan, instalasi, dan reservoar kami sudah terdigitalisasi,” jelasnya.

Menurut Sutisna, digitalisasi ini dinilai sebagai prestasi yang membanggakan dan telah mendapat apresiasi dari USAID. hal ini memudahkan perusahaan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, terutama dalam penanganan pengaduan dan mobilisasi personil.

Selain itu, Entis menjelaskan, kerjasama tersebut untuk menurunkan angka kehilangan air.

“Saat awal saya menjabat, angka kehilangan air mencapai 40%. Kini sudah turun menjadi 38%, dan kami optimis bisa menurunkannya hingga 2%,” ungkap Sutisna.

Meskipun demikian, Sutisna mengakui bahwa masih ada tantangan dalam hal pasokan air.

“Selama 25 tahun terakhir, distribusi air memang belum maksimal karena belum ada penambahan kapasitas produksi. Namun, kami optimis dapat meningkatkan pelayanan untuk 1000 rumah setiap tahunnya,” ungkapnya.

Sutisna juga menyampaikan bahwa rencana PT Air Minum Jayapura untuk mencari sumber air baru.

“Target kami adalah memiliki sumber air baru pada tahun 2024 atau 2025. Dengan adanya sumber air baru, kami berharap keluhan masyarakat akan berkurang,” pungkasnya.

(Renaldo Tulak)