Papua

Pimpin Hipmas Papua, Terianus Beno Siap Libatkan Pengusaha Muda di Proyek Strategis Nasional Prabowo

0
×

Pimpin Hipmas Papua, Terianus Beno Siap Libatkan Pengusaha Muda di Proyek Strategis Nasional Prabowo

Sebarkan artikel ini
Tampak Sekretaris Umum DPP Marthinus Kasuai Ketika Menyerahkan Mandat SK Kepada Plt Ketua Hipmas Papua, Terianus Gedion Beno, S.IP.

Berita Papua, Jayapura — Terianus Gedion Beno resmi menerima mandat Surat Keputusan (SK) sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Himpunan Pengusaha Muda Asli (Hipmas) Provinsi Papua, Senin (2/3/2026).

Mandat tersebut diserahkan langsung oleh Sekretaris Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hipmas, Marthius Kasuai, dalam sebuah seremoni sederhana di Gunung Merah, Sentani.

Langkah pertama yang akan ia lakukan adalah mendata ulang seluruh pengusaha asli Papua yang tersebar di delapan kabupaten dan satu kota di Provinsi Papua, sekaligus merangkul mereka menuju agenda pelantikan pengurus yang direncanakan berlangsung di Kantor Gubernur Provinsi Papua atau Hotel Suni, Sentani.

“Pengusaha muda Papua harus bergandeng tangan untuk membangun Papua dengan mengikuti program presiden, supaya pengusaha muda asli Papua bisa berjaya membangun negerinya sendiri. Jangan hanya pengusaha luar saja yang datang, Hipmas Papua juga harus bisa,” tegas TGB di Sentani.

Salah satu program prioritas yang menjadi perhatian TGB adalah keterlibatan aktif Hipmas Papua dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) yang digagas Presiden Prabowo Subianto. Ia menyebut, 3 bulan setelah pelantikan pengurus, Hipmas Papua akan siap menerima dan menjalankan PSN.

Dalam tahap pertama program tersebut, pencetakan sawah ditargetkan seluas 100.000 hektar secara nasional. Khusus di Provinsi Papua, lahan yang akan digarap terbagi di empat wilayah, yakni Kabupaten Sarmi seluas 650 hektar, Kabupaten Keerom 200 hektar, Kota Jayapura 100 hektar, dan Kabupaten Jayapura 50 hektar.

“Anak muda harus bisa berada di program PSN. Tidak hanya di pertanian, tapi di semua aspek yang ada di Provinsi Papua, Hipmas harus terlibat,” ujar TGB.

TGB juga menyoroti pentingnya pelibatan pemangku hak ulayat dalam setiap proyek yang menyentuh tanah adat.

Sebagai anak ondoafi, ia menegaskan bahwa para kepala suku dan ondoafi yang memiliki tanah harus dilibatkan sejak awal proses, guna mencegah potensi konflik agraria yang kerap muncul dalam proyek-proyek besar.

“Kami sebagai anak ondoafi harus dilibatkan supaya jika terjadi persoalan, kami bisa menjaga dengan melibatkan semua pihak, mulai dari anak kepala suku hingga pemilik tanah,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa ketahanan pangan harus menjadi fondasi sebelum proyek besar dilaksanakan. Menurutnya, ketersediaan bahan pangan lokal seperti beras, keladi, dan pisang harus dijamin terlebih dahulu sebagai “lumbung” masyarakat sebelum aktivitas produksi besar dimulai.

Sebagai penanggung jawab Hipmas Papua, TGB mengajak seluruh pemangku kepentingan mulai dari tokoh pemuda, tokoh adat, tokoh perempuan, pelaku UMKM, hingga kontraktor untuk bersatu menjaga lingkungan dan membangun daerah.

“Mari sama-sama menjaga lingkungan dan membangun negeri ini,” pungkas TGB.

(Yan Mofu)