Berita Papua.co, Sentani — Sebagai bentuk dukungan terhadap pelaksanaan Kongres Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) di Kabupaten Jayapura, masyarakat adat di Lembah Grime lewat para kaum intelektual anak-anak asli Grime menggagas sekaligus merencanakan pelaksanaan Festival Gedi Gulung atau yang sesuai bahasa setempat di sebut ‘Swamoning/Swotpun’. Swamoning/Swotpun adalah salah satu jenis makan asli dan khas yang selalu dikomsumsi secara turun-temurun oleh masyarakat yang bermukim di Lembah Grime. Lembah yang diatasnya berdiri enam distrik yakni, Distrik Kemtuk, Kemtuk Gresi, Namblon, Gresi Selatan, Nimboran dan Nimbokrang.
Swamoning/Swotpun adalah jenis makan yang dapat direbus, dengan bahan baku terdiri dari daun atau sayur gedi, sayur lilin, kelapa parut dan sagu. Awalnya daun gedi di bentang lalu dilapisi dengan sagu, selanjutnya diatas sagu ditabur kelapa parut sembari diberi bumbu secukupnya, dan diatas kelapa dan bumbu ditaruh sayur lilin. Setelah semuanya selesai diatur atau ditata maka seterusnya sayur gedi tersebut di gulung dan diikat lalu di rebus.
Ketua formatur sekaligus penggagas Festival Gedi Gulung, Andreas Swewali kepada media ini di Gunung Merah Sentani, Kamis (31/20) menuturkan, menyimak akan kekhususannya Swamoning/Swotpun maka dipandang perlu untuk dilestarikan dan diperkenalkan kepada dunia luar lewat sebuah kegiatan yang bertajuk budaya yakni, Festivas Swamoning/Swotpun.
Menurutnya, awal mula gagasan pelaksanaan festival muncul di tahun 2020/2021 tetapi tidak mendapat respon positif dari berbagai kalangan di lembah Grime. Hingga memasuki tahun 2022, dirinya kembali mewacanakan festival ini, dan ternyata mendapat respon yang sangat luar biasa.
“Banyak senior-senior kami anak-anak Grime, kaum intelektual asal Grime dan juga masyarakat umumnya menyatakan mendukung penuh rencana pelaksanaan festival gedi gulung. Akhirnya, di Kampung Sarmai Krang kami telah membentuk panitia untuk pelaksanaan festival,” tuturnya.
Tidak tanggung-tanggung, guna mendukung rencana pelaksanaan festival gedi gulung, pihaknya telah berkoordinasi dengan sejumlah pihak, termasuk pemerintah daerah. Pemerintah melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabuten Jayapura menyambut baik rencana itu dan menyatakan kesediaan untuk memberikan dukungan penuh.
Swewali menyatakan, pelaksanaan festival di rencanakan akan di laksanakan pada Bulan Oktober. Mengapa ? karena menurutnya pada bulan tersebut akan berlangsung kongres AMAN. Dengan demikian, dukungan masyarakat adat Grime terhadap kongres AMAN benar dapat di wujudnyatakan.
Dirinya menambahkan, ikon utama festival adalah Gedi Gulung atau Swamoning/Swotpun, tetapi juga akan di siapkan jenis makanan khas lainnya. Sehingga semarak festival dapat memberi nilai lebih kepada pengunjung karena selain disuguhkan Swamoning/Swotpun tapi ada makanan khas lainnya.
“Jika saudara-saudara kami di Sentani bisa melaksanakan Festival Danau Sentani, Festival Ulat Sagu dan Festival Waibu. Begitu juga saudara-saudara kami di pesisir tanah merah yang bisa melaksanakan Festival Bahari Teluk Tanah Merah dan Festival Mangga Golek. Maka kami juga harus dan mampu melaksanakan Festival Gedi Gulung atau Swamoning/Swotpun,” tukasnya.
(YFT)











