Berita Papua, Sentani — Seni gerabah tradisional Kampung Abar, Distrik Ebungfauw, Kabupaten Jayapura, kini mulai merambah dunia digital. Tim Pengabdian kepada Masyarakat Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Cenderawasih menyelenggarakan pelatihan pemasaran berbasis teknologi untuk para pengrajin gerabah lokal.
Kegiatan bertema “Memberdayakan Pengrajin Gerabah Tradisional Kampung Abar – Ebungfauw Kabupaten Jayapura Melalui Pemanfaatan Teknologi Inovatif Berbasis Digital Sebagai Strategi Pemasaran Berkelanjutan” berlangsung selama dua hari, 9-10 Juli 2025, dan diikuti pengrajin dari Sanggar Titian Hidup.
“Kampung Abar memiliki potensi luar biasa dalam seni gerabah tradisional yang masih dikerjakan secara manual tanpa alat bantu modern. Namun, tantangan utama adalah pemasaran yang masih konvensional,” jelas Alienra Nanda Kadun, ketua tim pengabdian, Kamis (17/7/2025).
Ketua Sanggar Titian Hidup mengaku mendapat manfaat besar dari kegiatan ini.
“Kegiatan ini baik sekali, kami selama ini tantangannya karena kami kurang paham betul mengenai pemasaran digital. Tetapi UNCEN sudah masuk dan bantu kami dengan membuat saluran-saluran pemasaran digital kami termasuk brand gerabah Abar,” ungkapnya.

Materi pelatihan mencakup praktik pemasaran dan strateginya, pentingnya brand produk serta desain brand, pemanfaatan media digital seperti website, Instagram, Facebook, WhatsApp Business, dan Shopee untuk promosi produk, serta strategi penulisan konten menarik menggunakan Chat GPT.
Para pengrajin menunjukkan antusiasme tinggi dan langsung mempraktikkan pembuatan akun media sosial serta mengunggah produk gerabah mereka secara online.
Kegiatan ini didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi Republik Indonesia melalui Hibah Pengabdian Kepada Masyarakat Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat Tahun 2025.
kegiatan ini menunjukkan komitmen Universitas Cenderawasih dalam memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan masyarakat Papua melalui transfer teknologi dan pengetahuan yang berkelanjutan.
(Redaksi)











