Ekonomi

BI Papua Gelar Kas Keliling ke Wilayah 3T, Pastikan Ketersediaan Uang Layak Edar

0
×

BI Papua Gelar Kas Keliling ke Wilayah 3T, Pastikan Ketersediaan Uang Layak Edar

Sebarkan artikel ini
Tampak pegawai BI Papua menggelar kas keliling penukaran uang Rupiah layak edar. (Ist)

Berita Papua, Jayapura — Di tengah tantangan geografis yang ekstrem, Bank Indonesia (BI) Perwakilan Papua terus melakukan misi penyediaan uang Rupiah di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).

Sepanjang bulan Februari 2026, otoritas moneter telah melaksanakan 3 kali operasi Kas Keliling Luar Kota (KKLK) guna memastikan masyarakat di pelosok Bumi Cenderawasih mendapatkan uang dalam jumlah cukup, pecahan sesuai, dan kondisi layak edar.

Kepala Perwakilan BI Papua, Warsono menegaskan bahwa akses terhadap uang tunai yang berkualitas adalah hak seluruh masyarakat.

“Kehadiran negara melalui Rupiah tidak boleh terhenti oleh jarak dan medan. Kami terus bergerak memastikan uang yang beredar di tangan masyarakat adalah uang yang bersih dan layak,” ujarnya di Jayapura, Kamis (12/3/2026).

Misi pertama dilaksanakan di Kabupaten Waropen pada 3-4 Februari 2026. Tim “Pejuang Rupiah” mendarat di Bandara Udara Botawa menggunakan pesawat caravan untuk menyambangi daerah yang dikenal dengan julukan Tanah Seribu Bakau tersebut. Di Pasar Uri dan Kantor Bank Papua, masyarakat terlihat antusias menukarkan uang tidak layak edar (UTLE) mereka. Selain penukaran, petugas juga memberikan edukasi Cinta, Bangga, dan Paham (CBP) Rupiah.

Tantangan lebih berat ditempuh tim yang bertugas di Distrik Atsj, Kabupaten Asmat, Papua Selatan. Untuk mencapai lokasi pada 3-4 Februari 2026, petugas harus menempuh dua kali penerbangan dari Jayapura ke Timika, lalu ke Asmat. Perjalanan dilanjutkan menggunakan kapal menyusuri sungai dari Agats menuju Distrik Atsj. Di wilayah rawa yang lembap ini, edukasi difokuskan pada cara merawat uang yang benar agar tidak mudah lusuh.

Sementara itu, di Wamena, Papua Pegunungan, operasi kas keliling pada 10-11 Februari 2026 menyasar kebutuhan spesifik masyarakat. Sebagai pusat perekonomian di kawasan pegunungan, Wamena kerap menghadapi tantangan inflasi akibat tingginya harga barang dan kelangkaan uang pecahan kecil di pasar tradisional.

Kehadiran BI difokuskan pada penyediaan Uang Pecahan Kecil (UPK) bagi para pedagang.

“Dengan tersedianya uang kembalian yang cukup, transaksi jual beli menjadi lebih lancar. Ini berdampak langsung pada daya beli masyarakat dan strategi penentuan harga oleh pelaku usaha,” imbuhKepala BI Papua.

Bank Indonesia mengimbau masyarakat untuk memanfaatkan layanan penukaran yang telah tersedia di bank-bank setempat secara terjadwal.

Ke depan, Bank Indonesia berkomitmen memperluas jangkauan layanan kas melalui sinergi dengan pemerintah daerah dan perbankan. Menjelang periode Ramadan dan Idul Fitri 2026, penguatan penyediaan uang tunai dan akselerasi pembayaran digital terus diakselerasi guna menjaga stabilitas harga dan kelancaran sistem pembayaran.

BI juga mengajak masyarakat untuk merawat Rupiah dengan prinsip 5J: Jangan dilipat, Jangan dicoret, Jangan diremas, Jangan distapler, dan Jangan dibasahi, serta berbelanja secara bijak sesuai kebutuhan.

(Redaksi)