Berita Papua, Jayapura — Peringatan Hari Malaria Sedunia yang jatuh pada 25 April 2026 dimanfaatkan untuk menutup dan mengumumkan pemenang Lomba Tebak Gambar Parasit Malaria PlasmoDX 2026. Kompetisi daring ini menjadi bukti peran inovasi digital dalam memperkuat kapasitas tenaga kesehatan, khususnya di Tanah Papua.
Lomba yang diselenggarakan secara daring sejak 10 hingga 24 April 2026 itu berhasil menarik 500 peserta yang berasal dari 31 kabupaten dan kota di Indonesia. Mayoritas peserta berasal dari Tanah Papua dengan latar belakang beragam, mulai dari rumah sakit, puskesmas, laboratorium swasta, hingga perguruan tinggi. Panitia mencatat adanya peserta yang mencoba hingga puluhan kali demi meningkatkan skor.
Ketua panitia, Dr. Lenny Ekawati, menjelaskan bahwa lomba ini dirancang untuk meningkatkan ketelitian tenaga analis laboratorium dalam mengidentifikasi spesies dan stadium parasit malaria.
“Setiap peserta mengerjakan 42 soal per sesi dengan batas waktu 25 detik per soal dan diwajibkan mengikuti minimal tiga kali sesi,” ujarnya.
Sistem penilaian dilakukan secara otomatis berdasarkan akurasi dan rata-rata nilai terbaik. Pendekatan ini dinilai efektif dalam meningkatkan kecepatan membaca sediaan darah sekaligus akurasi diagnosis.
Principal Investigator SHIELD PAPUA, Dr. Iqbal Elyazar, dalam sambutannya menekankan bahwa lomba ini merupakan terobosan baru.
“Kompetisi ini diperkirakan menjadi salah satu yang pertama di Indonesia, bahkan di kawasan Asia Pasifik, yang berfokus pada identifikasi parasit malaria,” katanya.
Ia berharap kegiatan ini dapat terus berlanjut dan membuka peluang kolaborasi lintas wilayah hingga tingkat internasional.
Dukungan juga datang dari Kementerian Kesehatan RI. Perwakilan Timja PATVZGHBTB, dr. Febry Immanuella, menegaskan bahwa diagnosis yang cepat dan akurat merupakan kunci utama eliminasi malaria.
Ia mengapresiasi platform PlasmoDX sebagai solusi pembelajaran inovatif yang mampu menjawab keterbatasan pelatihan konvensional sekaligus memperkuat kapasitas sumber daya manusia di bidang laboratorium kesehatan.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua, dr. Beeri I.S. Wopari menyebut PlasmoDX sebagai terobosan digital yang sejalan dengan arah kebijakan nasional dalam memperluas akses layanan berbasis teknologi. Ia mendorong agar pelaksanaan lomba di tahun mendatang dirancang lebih matang dengan dukungan anggaran yang lebih besar.
Pada puncak acara, diumumkan 3 pemenang dengan nilai tertinggi:
· Juara pertama: Ilham Munir dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sarmi dengan skor 93,7%
· Juara kedua: Antoni Tulle dari Klinik Meysa Boven Digul dengan skor 91,3%
· Juara ketiga: Raifit dari Klinik Mitra Masyarakat, Kabupaten Mimika dengan skor 90,8%
Dalam pernyataannya, Ilham Munir menyampaikan rasa syukur dan menekankan bahwa proses belajar menjadi hal terpenting dalam kompetisi ini.
Ia mengajak tenaga laboratorium di Tanah Papua untuk terus meningkatkan kemampuan dan tidak ragu menghadapi tantangan
baru.
(Yan Mofu)











