Papua

Pendeta Wutoy: Antara Kehidupan Iman, Keinginan Diri Sendiri dan Kekuasaan Manusia Dalam Iman Kristen

45
×

Pendeta Wutoy: Antara Kehidupan Iman, Keinginan Diri Sendiri dan Kekuasaan Manusia Dalam Iman Kristen

Sebarkan artikel ini
Pendeta Gustav Melkias Wutoy (SC YouTube multimedia Pniel Kotaraja)

BeritaPapua.co, Jayapura — “Firman Tuhan saya berikan tema refleksi kita dan renungan hari ini adalah, antara kehidupan iman keinginan diri sendiri dan kekuasaan manusia dalam iman Kristen.”

Demikian hal itu disampaikan oleh Gustav Melkias Wutoy selaku Pendeta di GKI Pniel Kotaraja saat Ibadah Minggu pagi (2/4/2023) memperingati Minggu Kesengsaraan Tuhan Yesus Yang Ke-7 serta peneguhan 92 pemuda sebagai SIDI GKI di Tanah Papua.

Pendeta Gustav Wutoy menyampaikan, ada 3 hal yang prinsip dari kehidupan Kristen menurut tema ini, pertama kehidupan Kristen kita sangat dipengaruhi oleh iman kita.

“Kekristenan kita mau tra baik kah, baik kah itu tergantung dari kadar dan kualitas iman seorang percaya,” tegasnya.

Mengaku iman, kata pendeta, itu artinya menentukan kepada dunia bahwa kita punya iman berkualitas, punya nilai, punya harga, yang tidak ada tawar-menawar.

“Di Mall, dimana-mana itu diskon ya, iman Kristen tidak pernah kena diskon. Awas jangan ko bikin iman kena diskon. Iman sangat dipengaruhi oleh kehidupan,” ujarnya.

Pada prinsip Kedua, dia menyampaikan bahwa kehancuran kehidupan dari iman Kristen sangat dipengaruhi oleh keinginan pribadi, keinginan diri sendiri dan kekuasaan manusia.

“Jadi kalau su bilang tidak usah, Jang ko paksa dengan ko pu keinginan. Kalau Gereja su bilang tidak usah, ko tidak usah paksa. Yang keinginanmu melebihi keadaan yang seharusnya tidak boleh,” ucapnya.

Sedangkan pada prinsip Ketiga, dia menyampaikan bahwa keputusan etika hidup etis dalam iman Kristen untuk kehidupan Kristen pada masa kini, sangat ditentukan oleh keputusan kekuasaan manusia.

“Karena itu mari kita belajar dan merenungkan Firman Tuhan, bagaimana Yesus berjuang, bagaimana perjuangan Yesus untuk mempertahankan iman, mempertahankan rencana Allah dalam hidupnya supaya tetap terjadi ditengah kekuasaan itu,” tandasnya.

Pendeta Wutoy juga menyampaikan bahwa pada saat itu, Yesus berjuang melawan keinginan manusia dan keinginan orang-orang Israel. Yesus berjuang melawan kekuasaan Pilatus yang memainkan peran besar dalam memutuskan perkara Yesus.

“Dalam memutuskan perkara-perkara iman, perkara Kekristenan, perkara pelayanan Gereja pada kini juga dipengaruhi oleh kekuasaan manusia,” ungkapnya.

Ia menambahkan, bahwa 3 hal tersebut adalah yang harus kita renungkan dan kita refleksikan dalam hidup. Renungan tersebut diambil dalam Alkitab perjanjian baru Injil Yohanes 19 : 1-16.

“Kasihlah tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu, itulah hukum yang pertama dan terutama dan hukum yang kedua yang sama dengan itu ialah kasihlah sesama manusia seperti dirimu sendiri pada kedua hukum ini tergantung semua hukum taurat dan kita para nabi,” demikian tertulis Alkitab pada Matius 22 ayat 37 – 40.

(Renaldo Tulak)