Papua

Tidak Sesuai Nilai Adat, Penggunaan Koteka di Event Papua Street Carnival Dapat Kecaman Dari Tokoh Masyarakat

13
×

Tidak Sesuai Nilai Adat, Penggunaan Koteka di Event Papua Street Carnival Dapat Kecaman Dari Tokoh Masyarakat

Sebarkan artikel ini
Foto Busana Menggunakan Koteka Yang Diperagakan Saat Event Papua Street Carnival di Jayapura Yang Diperdebatkan

BeritaPapua.co, Jayapura — Salah satu Tokoh Masyarakat Wilayah Adat Lapago, Paskalis Kossay mengecam penggunaan Koteka di Event Papua Street Carnival yang digelar di pelataran Kantor Gubernur Papua, Jumat (7/7/2023).

Ia menilai bahwa penggunaan Koteka tersebut menyalahi tradisi dan juga melecehkan adat istiadat wilayah Lapago.

“Titik poin krusialnya perdebatan yang perlu diklarifikasi oleh penyelenggara tentunya mengenai penggunaan koteka, kami nilai tidak wajar dan sangat tidak sesuai,” ujar Paskalis Kossay melalui keterangan tertulis, Senin (10/7/2023).

Menurutnya, penampilan busana koteka yang dipakai oleh peragawan tidak sesuai dengan tradisi masyarakat adat Laapago dan Meepago.

“Mereka ini seluruh tubuhnya dipoles dengan arang hitam pekat, kemudian memakai koteka ditancapkan dalam celana, dan berjalan lenggang lenggok didepan Presiden Jokowi sambil memegang kedua tangannya sebuah batang koteka yang dipakainya.”

“Peristiwa ini tentu saja membuat bahan tertawaan bagi semua yang hadir dalam ivent Papua Street Carnival,” sambung Kossay.

Paskalis Kossay menyampaikan bahwa kejadian itu merupakan suatu pelecehan terhadap nilai budaya yang dimiliki masyarakat adat Laapago dan Meepago.

“Sebab dari jaman moyang sampai dengan hari ini masyarakat adat Laapago dan Meepago tidak pernah memakai busana adat ( koteka ) seperti yang diperagakan para peragawan itu.”

“Kami orang Laapago dan Meepago cukup kecewa berat dengan promosi cara pemakaian koteka yang diluar konteks nilai budaya yang dipahami masyarakat adat Laapago dan Meepago,” lanjut dia.

Kossay menjelaskan, cara pemakaian busana adat secara tidak tepat, sama seperti dengan sengaja mengkhianati nilai budaya masyarakat adat Laapago dan Meepago.

“Untuk itu, kami minta ada yang bertanggung jawab mengklarifikasi perbuatan pelecahan ini. Sebab perbuatan ini tidak memberikan nilai edukasi yang tepat kepada publik . Sebaliknya, sengaja merusak nilai-nilai kesakralan tradisi dan adat istiadat suatu suku dan bangsa,” tegasnya.

(Renaldo Tulak)