Papua

Gereja Bethel Papua Bakal Bangun Fasilitas Kesehatan Bertaraf Internasional dan Pendidikan Hingga Perguruan Tinggi

155
×

Gereja Bethel Papua Bakal Bangun Fasilitas Kesehatan Bertaraf Internasional dan Pendidikan Hingga Perguruan Tinggi

Sebarkan artikel ini
Tampak Ketua Umum Sinode GBP, Pdt Yulianus Klemens Worumi sedang melakukan ritual doa usai peletakan batu pertama

Berita Papua, Jayapura — Sinode Gereja Betel Papua (GBP) bakal membangun kantor Sinode, fasilitas Kesehatan dan pendidikan bertaraf internasional.

Pembangunan fasilitas kesehatan meliputi, rumah sakit Ibu dan anak berskala internasional serta rumah sakit umum dan apotik dalam 1 gedung terpadu.

Sedangkan fasilitas pendidikan yang akan dibangun, mulai dari tingkat Paud hingga perguruan tinggi STIE Bethel Papua.

Semua fasilitas tersebut akan di bangun diatas lahan seluas 1 hektar dengan rincian anggaran senilai Rp15 Miliar.

Dimana hal itu mulai diwujudkan dengan dilakukan peletakan batu pertama oleh jajaran GBP, perwakilan PJ Gubernur Papua, pemerintah, perwakilan Pangdam XVII cenderawasih, Perwakilan Kapolda Papua, tokoh agama serta tokoh masyarakat di Koya Barat, distrik Muara Tami, Kota Jayapura pada Jumat sore (22/3/24).

Staf ahli Gubernur Papua, Gerzon Jitmau mengatakan, apa yang dilakukan oleh GBP merupakan kepedulian terhadap Sumber Daya Manusia (SDM) di Papua.

“Pembangunan yang dilakukan ini, membangun manusia Indonesia seutuhnya, dari psikis maupun mental rohani sampai kepada kualitas sumber daya manusia. Apalagi ibu dan anak itu dalam konferensi PBB, di situ mengutamakan ibu dan anak itu utama, dalam suatu bangsa dan negara,” ujarnya.

“Jadi oleh sebab itu PJ gubernur ini sangat menentukan dalam memikul tanggung jawab dari kami pemerintah dalam menggumuli hal ini khususnya untuk para sinode dari Bethel Papua,” sambungnya.

Lanjut, kata Jitmau, semua yang akan dibangun oleh GBP nantinya banyak masyarakat di kota Jayapura dan kabupaten Keerom dapat mengambil bagian dalam pelayanan tersebut.

“Supaya representatif kualitasnya, supaya kualitas rakyat Papua itu akan bagus. Dan harapan masa depan itu semua harus seperti negara-negara yang sudah maju, seperti daerah-daerah Australia, daerah Filipina dan negara tetangga kita. Oleh sebab itu kami memberi apresiasi untuk kegiatan ini, dan tentunya sejalan dengan visi daerah dalam membangun manusia seutuhnya. Membangun di era otonomi khusus ini,” tandasnya.

Sehingga kata dia, hak otonomi khusus untuk mendidik kemandirian masyarakat Papua dan membangun daerahnya sendiri di berbagai sektor.

“Seperti sektor agama, kesehatan, sektor pendidikan ada di dalam sektor-sektor perguruan tinggi dan lain-lain, sehingga apa yang diamanatkan dalam visi misi pemerintah daerah,” imbuhnya.

Jitmau menyebut, GBP sudah mengantisipasi pembangunan Papua berjangka 5 hingga 10 tahun kedepan, sesuai master plan pembangunan yang diarahkan ke wilayah perbatasan RI-PNG.

“Saya minta kepada semua pihak pemangku kepentingan pemerintah masyarakat BUMN maupun mitra-mitra lainnya membantu battle untuk membangun sinode-nya dan pendidikan sampai semua terintegrasi. Jadi itu harapan pemerintah masuk dalam rencana pembangunan jangka menengah nasional,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Umum GBP, Pdt Yulianus Klemens Worumi mengatakan, pembangunan bakal dilakukan pada pekan depan.

“Pada akhirnya diresmikan juga oleh pemerintah. Dan pembangunan Paud sampai SMK, sampai STT Bethel Papua, rumah sakit ibu dan anak yang lebih penting lagi. Kami akan selesaikan dengan baik, demi menjawab kebutuhan mendasar dari masyarakat Papua dan juga masyarakat umum lainnya yang ada di tanah Papua,” tegasnya.

Pdt Yulianus menyampaikan apresiasi kepada PJ Gubernur Papua yang telah menaruh perhatian terhadap apa yang dilakukan oleh pihak GBP.

“Ini menandakan bahwa pemerintah sudah sejalan dengan program gereja program gereja juga sudah sejalan dengan program pemerintah untuk menjawab keluhan masyarakat,” ungkapnya.

Tak hanya itu, Pdt Worumi juga mengapresiasi pihak-pihak yang telah memberikan dukungan.

“Dulunya jalan ini tidak bagus, tapi gereja sudah kerja keras menyelesaikan dengan ekskavator, bantuan dari teman-teman kontraktor sehingga menjawab sarana umum di tempat ini. Ada Manajer PLN Jayapura dan kepala UPT sehingga listrik sudah masuk menjawab permohonan gereja sehingga dari tahun 82 sampai hari ini lampu baru bisa masuk daerah ini ketika gereja ada di sini,” pungkasnya.

(Renaldo Tulak)