BeritaPapua.co, Jayapura — Sudah 1 bulan semenjak arus listrik diputus oleh pihak PLN, mahasiswa asrama kabupaten Supiori di Jayapura hanya menggunakan lilin sebagai penerangan di waktu belajar dan menjelang istirahat malam.
Bukan hanya penerangan namun putusnya arus listrik sangat dinilai sangat menggangu aktifitas belajar dari para mahasiswa Supiori putra maupun putri.
Kepada wartawan Beritapapua.co Ketua Asrama Mahasiswa Supiori, Roy Kurni menjelaskan Pemerintah Kabupaten Supiori sudah tidak membayar angsuran listrik ke PLN sejak November 2022 hingga tahun ini.
Akhirnya, PLN memutuskan listrik pada 13 Februari 2023. Pemutusan listrik tidak hanya di Asrama Putra, asrama Putri juga demikian.
Lanjut Kurni, dengan alasan tunggakan sambung langsung. Bagian Kesra Kabupaten Supiori pernah datang dengan tujuan membayar namun tak melakukan transaksi pembayaran, melainkan membuat surat pernyataan untuk setoran dengan PLN.
Menurutnya, pada 21 Oktober 2022 membuat pernyataan dengan PLN. Lalu, pada 22 Oktober 2022 menelfon untuk memastikan kapan penyetoran.
Namun, kata dia, tidak direspon sehingga pada 13 Februari langsung dilakukan pemutusan. Hingga kini pas sebulan pihaknya dalam kegelapan.
“Bagian Kesra mengaku tidak ada anggaran bergantung pada bupati. Sudah disampaikan kepada bupati tetapi tidak direspon,”kata Roy kepada wartawan di Jayapura, Senin (13/3).
“Kami adalah mahasiswa sehingga tidak ada biaya untuk bayar meteran listrik, kami mahasiswa sangat berharap kepada Pemda agar memperhatikan kami,”ujarnya.
Menurut dia, pengurus Asrama meminta kepada mantan Kadis Kesra, Hendrik Kapisa untuk mempertanggungjawabkan surat perjanjian dengan PLN.
Hal serupa juga disampaikan oleh beberapa mahasiswa yang tinggal di kedua asrama tersebut.
Salah satu mahasiswa yang enggan menyebutkan identitas menyebut, PLN memutuskan listrik lantaran sudah ada perjanjian pembayaran tiap bulan antara PLN dengan Pemerintah Kabupaten Supiori. Namun,tak terlaksana.
Pemotongan listrik bukan hanya pencabutan meteran, melainkan langsung memotong kabel dari tiang listrik ke kedua asrama ini.
Pemutusan listrik menyebabkan, mahasiswa yang hendak menyelesaikan skripsi terpaksa memilih tinggal di kos-kosan agar ada listrik untuk menyusun skripsi.
“Karena lampu mati jadi setiap malam gelap, kami pakai pelita sebagai penerang,”katanya.
Dari data yang diperoleh, jumlah kamar di Asrama Putra Kabupaten Supiori sebanyak 11 kamar. Sementara jumlah kamar di Asrama Putri Supiori sebanyak 14 kamar.
Pemerintah Kabupaten Supiori tidak menanggung biaya pendidikan di perguruan tinggi termasuk makan-minum hanya aset asrama yang ditanggung oleh pemerintah kabupaten setempat.
Fasilitas dikedua asrama tersebut berupa tempat tidur satu kamar, setiap kamar dilengkapi dengan ac, dan shower kamar mandi umum.
Penghuni Asrama putri sebanyak 26 orang. Sementara penghuni di Asrama Putra sebanyak 28 orang.
Bupati Supiori saat dikonfirmasi wartawan via pesan WhatsApp terkait pemutusan listrik di Asrama Mahasiswa Supiori namun tak merespon.
Sementara itu, anggota DPR Papua Daerah Pemilihan Saireri, Yohanes Ronsumbre ketika dikonfirmasi mengaku sudah mendapat informasi terkait pemutusan listrik di Asrama Supiori.
Namun, kata dia, belum bisa berkomentar lantaran belum turun langsung untuk melihat langsung kondisi asrama. Yohanes berjanji bakal berkomentar setelah turun ke Asrama.
Ia berjanji, dalam 2 hari kedepan akan meninjau langsung para mahasiswa Supiori yang ada di Expo Waena, Kota Jayapura tersebut.
(RT)











