Berita Papua, Jayapura — Sebanyak 40 siswa kelas 7 dan 8 SMP Kristen Kalam Kudus Jayapura melakukan kunjungan belajar ke Gereja Kristen Injili (GKI) jemaat Abara di Kampung Enggros, Jayapura, Papua, pada Selasa (22/4/2025).
Kegiatan ini bertujuan memperdalam pemahaman siswa tentang sejarah penyebaran Injil di Port Numbay di Pulau Metu Debi, Kampung Enggros.
Karinsen Purba, Kepala Sekolah SMP Kalam Kudus Jayapura, menjelaskan bahwa kunjungan ini merupakan bagian dari pembelajaran kontekstual.
“Kami ingin siswa tidak hanya mendengar cerita, tetapi juga melihat langsung tempat-tempat bersejarah penyebaran Injil di tanah Papua,” ujarnya.

Purba menekankan pentingnya siswa memahami perjuangan para penginjil yang datang dari jauh untuk menyebarkan agama Kristen di Papua.
“Mereka harus sadar bahwa kelak ini bisa menjadi tanggung jawab mereka juga sebagai penerus pemberita Injil,” tegasnya.
Selain melakukan ibadah di GKI Enggros, kata Purba siswa diajak berinteraksi dengan melihat langsung situs-situs sejarah penyebaran Kristen di pulau Metu Debi.
Ia berharap, kegiatan ini tidak hanya menambah pengetahuan siswa tetapi juga memperkuat iman dan komitmen mereka dalam melanjutkan misi penginjilan.
“Kami berharap, melalui pembelajaran langsung seperti ini, pemahaman dan kecintaan mereka terhadap nilai-nilai Injil semakin mendalam,” pungkas Purba.

Sementara itu, Albert Merauje, Wakil Ketua Majelis Jemaat GKI Abara Kampung Enggros sekaligus wakil ketua Fraksi NasDem DPR Papua, menekankan pentingnya generasi muda memahami sejarah masuknya Injil di Tanah Papua.
Merauje menjelaskan, kunjungan ini bertujuan memperkenalkan tempat bersejarah penyebaran Injil di Pulau Metu Debi.
“Tanggal 10 Maret menjadi hari penting ketika terjadi pembaptisan pertama 18 orang Tobati-Enggros oleh misionaris Van Hasselt dan Laurence Tanamal 115 tahun lalu,” ujarnya.
Sebagai anggota DPR Papua, Merauje juga menyoroti pentingnya pendidikan sejarah bagi pembangunan SDM Papua.
“Bagaimana kita mau mengolah alam Papua jika SDM-nya tidak dipersiapkan? Anak-anak perlu mendapat pengetahuan tambahan tentang sejarah, budaya, dan peradaban di tanah mereka sendiri,” tegasnya.
Sangat menginspirasi, kata Merauje kunjungan ini dirancang sebagai pembelajaran kontekstual, di mana siswa tidak hanya mendengar cerita tetapi melihat langsung bukti sejarah.
“Mereka mengerjakan 10-15 pertanyaan tentang sejarah Injil di sini. Dengan biaya hanya Rp10.000-Rp20.000 naik speedboat selama 5 menit, mereka bisa menyaksikan bukti sejarah ini,” jelas Merauje.
Merauje berharap kegiatan serupa dapat dilakukan oleh sekolah-sekolah lain di Port Numbay.
“Ini adalah generasi emas yang harus mengenal sejarahnya agar mencintai negerinya sendiri. Selain tugu Injil, di sini juga ada situs pemerintahan awal dan peradaban prasejarah di Gunung Srobo yang berusia 1724 tahun,” tambahnya.
Menurut Merauje, penyebaran Injil dari Metu Debi telah membawa perubahan besar bagi Papua.
“Dari sinilah Injil menyebar ke Skouw, Arso, Keerom, hingga Sentani. Proses ini juga menjadi awal perkembangan pemerintahan di tanah ini,” paparnya.
Ia menegaskan, pemahaman sejarah ini akan memperkuat iman dan kecintaan generasi muda pada tanah Papua.
“Mereka harus tahu perjuangan para misionaris yang datang dari jauh, agar kelak bisa menjadi penerus dalam membangun Papua,” pungkas Merauje.
(Renaldo Tulak)











