Pendidikan

Tuntut Keadilan, Mahasiswa Nduga se-Jawa Bali Desak Bupati dan Wakil Bupati Terpilih Perbaiki Sistem Pendidikan

208
×

Tuntut Keadilan, Mahasiswa Nduga se-Jawa Bali Desak Bupati dan Wakil Bupati Terpilih Perbaiki Sistem Pendidikan

Sebarkan artikel ini
Tampak perwakilan para mahasiswa se-Jawa dan Bali saat memberikan pernyataan pers.

Berita Papua, Jakarta — Narik Yimin Tabuni, perwakilan mahasiswa Nduga se-Jawa-Bali menyampaikan keprihatinan terkait penanganan pendidikan di Kabupaten Nduga yang dinilai tidak efektif dan tidak sesuai dengan kebutuhan pelajar dan mahasiswa.

Hal tersebut disampaikan Tabuni saat makan bersama Bupati dan Wakil Bupati, Dinar Kelnea dan Yoas Beon terpilih periode 2025-2030 usai dilantik oleh Presiden Prabowo, di Jakarta, Kamis (20/2/2024)

Dalam pernyataannya, Tabuni menegaskan bahwa sejak pemerintahan Nduga hadir pada tahun 2008 hingga tahun 2025 ini, kebijakan dan regulasi pemerintah belum mampu memberikan solusi konkret terhadap masalah pendidikan, khususnya bagi mahasiswa Nduga.

“Ada beberapa program bantuan studi, tetapi hanya berjalan selama 1 tahun dan tidak efektif. Bantuan yang diberikan biasanya hanya pada bulan Mei hingga Agustus, sementara kebutuhan pembayaran kuliah justru muncul pada bulan Januari saat semester baru dimulai. Ini membuat kami kesulitan,” ujar Tabuni.

Menurutnya, bantuan yang diberikan sekali setahun tidak cukup untuk menunjang kelangsungan pendidikan mahasiswa. Hal ini diperparah dengan tidak adanya program yang tepat sasaran, sehingga banyak mahasiswa Nduga yang kesulitan mendapatkan akses pendidikan yang layak.

Padahal, kata Tabuni, berdasarkan Undang-Undang Otonomi Khusus, 30% dari dana otonomi khusus seharusnya dialokasikan untuk pendidikan. Namun, implementasinya dinilai tidak sesuai dengan harapan.

“Kami melihat bahwa anggaran pendidikan sebesar 20% dari APBD dan APBN tidak pernah diimplementasikan dengan program yang tepat. Ini tidak hanya terjadi di Nduga, tetapi juga di daerah lain di Papua,” ungkap Tabuni.

Tabuni menyatakan dukungan penuh terhadap visi Bupati dan Wakil Bupati yang berkomitmen mewujudkan perubahan dan keadilan bagi Nduga. Dengan terpilihnya Bupati dan Wakil Bupati yang baru, mahasiswa Nduga berharap adanya perubahan signifikan dalam penanganan di dunia pendidikan.

“Kami mendukung Bupati dan Wakil Bupati yang baru karena mereka memiliki visi untuk membawa perubahan. Namun, kami juga meminta agar setiap program yang dijalankan harus sesuai dengan tanggung jawab masing-masing OPD (Organisasi Perangkat Daerah). Jika ada OPD yang tidak menjalankan amanat dengan baik, kami minta agar mereka segera dicopot dari jabatannya,” tegas Tabuni.

Dalam pernyataan sikapnya, mahasiswa Nduga mengajukan beberapa tuntutan kepada pemerintah daerah, antara lain:

1. Kerjasama dengan Yayasan Binterbusih Semarang: Mahasiswa meminta pemerintah Nduga untuk bekerja sama dengan Yayasan Binterbusih Semarang guna mendampingi pelajar dan mahasiswa Nduga dalam menempuh pendidikan.

2. Pelibatan Intelektual Nduga dalam Pembangunan: Mahasiswa meminta agar pemerintah melibatkan intelektual Nduga dalam proses pembangunan, termasuk memberikan peran yang lebih besar kepada perempuan Nduga.

3. Larangan Penggunaan Budaya Suku Nduga oleh Pendatang: Mahasiswa menegaskan larangan keras terhadap pendatang yang menggunakan budaya suku Nduga secara tidak pantas, karena hal tersebut dianggap sebagai pelecehan terhadap jati diri orang Nduga.

4. Penyediaan Jaringan Internet 24 Jam: Mahasiswa mendesak Dinas Kominfo Nduga untuk segera menyediakan jaringan internet yang stabil dan dapat diakses 24 jam.

5. Perhatian terhadap Hak dan Gaji Kepala Kampung dan ASN: Mahasiswa meminta pemerintah untuk memperhatikan hak-hak dan gaji kepala kampung serta ASN, agar mereka dibayar sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya.

6. Bantuan Natal Mahasiswa Nduga: Mahasiswa mendesak pemerintah untuk memberikan bantuan Natal kepada mahasiswa Nduga di tiga wilayah setiap tahun.

Tabuni menegaskan bahwa tuntutan ini bukan hanya untuk kepentingan mahasiswa saat ini, tetapi juga untuk generasi mendatang.

“Cukup kami saja yang menjadi korban. Kami berharap agar generasi berikutnya tidak mengalami hal yang sama,” ujarnya.

Dengan adanya kepemimpinan baru, mahasiswa Nduga berharap bahwa program-program prioritas, terutama di bidang pendidikan, dapat segera diimplementasikan.

“Kami mengerti bahwa perubahan tidak bisa terjadi dalam satu tahun, tetapi kami berharap ada kemajuan yang signifikan dalam waktu dekat,” pungkas Tabuni.

(Renaldo Tulak)