Pendidikan

Tawarkan Model Inovatif “Hybrid Peri Adat” Dalam Sidang Promosi, Silvia Veronica Yarangga Raih Doktor dengan IPK 3,94

0
×

Tawarkan Model Inovatif “Hybrid Peri Adat” Dalam Sidang Promosi, Silvia Veronica Yarangga Raih Doktor dengan IPK 3,94

Sebarkan artikel ini
Silvia Veronica Yarangga, S.IP., M.KP.

Berita Papua, Jayapura — Silvia Veronica Yarangga mencatatkan prestasi gemilang dengan meraih gelar doktor Ilmu Sosial bidang kajian Ilmu Pemerintahan dari Universitas Cenderawasih dengan IPK kumulatif 3,94.

Lebih dari sekadar pencapaian akademik, penelitiannya menghadirkan model inovatif “Hybrid Peri Adat” sebagai solusi pemberdayaan perempuan adat Papua.

Sidang terbuka promosi doktor tersebut digelar di Hotel Horison Kotaraja, Jayapura, Rabu (21/1/2026).

Disertasi Silvia bertajuk “Model Implementasi Kebijakan Pemberdayaan Perempuan Muyu dalam Kehidupan Sosial Ekonomi di Kabupaten Boven Digoel Provinsi Papua Selatan” dinilai menghadirkan terobosan baru dalam pendekatan pemberdayaan perempuan adat di Papua.

Sidang promosi dipimpin Prof. Dr. Drs. Akbar Silo, MS., Direktur dan Ketua Program Pascasarjana Universitas Cenderawasih. Tim promotor terdiri dari Prof. Dr. Vince Tebay, S.Sos., M.Si., sebagai Promotor Utama, didampingi Prof. Dr. Dra. Yosephina Ohoiwutun, M.Si., dan Dr. Yusuf Gabriel Maniagasi, S.Sos., M.Si., sebagai Co-Promotor.

Signifikansi penelitian ini ditandai kehadiran Sekretaris Daerah Kabupaten Boven Digoel, Dr. Pilemon Tabuni, S.Ip., M.Si., yang turut menyaksikan sidang promosi.

Tampak foto bersama Silvia Veronica Yarangga, S.IP., M.KP bersama para dosen penguji.

Dalam wawancara usai sidang, Silvia menjelaskan alasan strategis pemilihan perempuan suku Muyu sebagai fokus penelitian. Kabupaten Boven Digoel dihuni 5 suku asli: Muyu, Mandobo, Korowai, Kombay, dan Awyu.

“Mengangkat kelima suku sekaligus sangat sulit dengan keterbatasan waktu dan pertimbangan lainnya, sehingga saya memfokuskan pada suku Muyu khusus untuk perempuan,” ungkap Silvia.

Meski fokus pada satu suku, Silvia menegaskan penelitiannya dapat menjadi representasi untuk perempuan dari empat suku lainnya di Kabupaten Boven Digoel, mengingat kesamaan kondisi sosial-ekonomi yang mereka hadapi.

Temuan utama penelitian Silvia adalah model rekomendasi inovatif bernama “Hybrid Peri Adat” yang dirancang khusus untuk mengoptimalkan kebijakan pemberdayaan perempuan adat. Model ini menjadi jembatan yang menggabungkan 2 pendekatan: konteks masyarakat adat dengan struktur pemerintahan formal, sambil mempertimbangkan kebutuhan riil perempuan adat di lapangan.

“Harapan saya, model rekomendasi ini dapat menjadi rujukan dan kontribusi pemikiran kepada pemerintah, khususnya Pemerintah Daerah Kabupaten Boven Digoel, terkait implementasi Peraturan Bupati Nomor 35 Tahun 2019 tentang Persamaan Gender dalam Pembangunan Daerah,” jelas Silvia.

Ia mengidentifikasi permasalahan mendasar dalam implementasi kebijakan pemberdayaan selama ini. Program pemerintah seringkali tidak sesuai dengan kebutuhan adat karena perempuan Boven Digoel masih melekat kuat dengan adat-istiadat mereka.

“Ke depan, model ini dapat diadaptasikan sesuai konteks lokal dari lima suku besar untuk peningkatan sosial dan ekonomi,” tambahnya.

Silvia merekomendasikan strategi konkret dalam disertasinya: perlunya pemerataan pembangunan wilayah berdasarkan potensi sumber daya alam yang tersebar di 20 distrik dan 112 kampung di Kabupaten Boven Digoel.

“Masing-masing wilayah dapat tampil dengan kearifan lokal dan potensi yang bisa diberdayakan untuk peningkatan ekonomi, khususnya bagi perempuan,” jelasnya.

Pemberdayaan berbasis potensi lokal ini, menurut Silvia, menjadi kunci agar masyarakat dapat mandiri dan tidak terus bergantung pada pemerintah. Dengan demikian, mereka mampu meningkatkan ekonomi secara pribadi, keluarga, maupun komunitas adat secara berkelanjutan.

Sebagai doktor termuda dari Boven Digoel, Silvia menyampaikan pesan inspiratif tentang pentingnya pendidikan bagi perempuan Papua.

“Pendidikan sangat penting karena ketika mendidik satu perempuan, berarti kita menciptakan generasi yang cerdas,” tegasnya.

Silvia memotivasi perempuan Papua bahwa pendidikan tidak hanya terbatas pada jalur formal.

“Kita bisa belajar dari banyak referensi di internet dan menggunakannya untuk hal-hal positif yang berguna untuk pengembangan pendidikan dan kapasitas kita sebagai perempuan,” ujarnya.

Ia mengingatkan pentingnya perempuan mengenali dan mengembangkan potensi diri masing-masing. Terlepas dari peran sebagai ibu rumah tangga atau profesi apapun, Silvia menegaskan bahwa pendidikan harus tetap diutamakan untuk kemajuan perempuan Papua.

“Pendidikan itu sangat penting dan bisa kita dapat serta akses dengan mudah melalui kehidupan sehari-hari, internet, dan berbagai referensi. Itu tergantung kemauan kita untuk berkembang atau tidak,” pungkasnya.

(Renaldo Tulak)