Berita Papua, Sentani — Komite Sekolah SMP Negeri 1 Kemtuk Gresi, Charles Wouw mendesak Dinas Pendidikan Kabupaten Jayapura untuk mengembalikan marwah institusi pendidikan yang pernah menjadi sekolah standar dan kebanggaan di Distrik Kemtuk Gresik itu seperti sedia kala.
Pernyataan tegas tersebut disampaikan Charles Wouw kepada awak media di Sentani, Rabu (3/3/2026).
Menurutnya, kemajuan pesat pernah diraih SMPN 1 Kemtuk Gresi pada masa kepemimpinan Kepala Sekolah Haryanto.
“Sekolah kami dulu menjadi nilai standar. Pada masa kepemimpinan Pak Haryanto, sekolah itu sangat luar biasa maju, bagus, dan rapi manajemennya. Ada 400 siswa, mayoritas anak asli Papua, yang mengeyam pendidikan dengan baik,” ungkap Charles.
Namun, kondisi tersebut berubah drastis setelah Haryanto dimutasi tanpa kejelasan. Pucuk pimpinan sekolah kemudian diisi oleh Simon Bame. Charles menilai, kehadiran Simon Bame tidak membawa kemajuan, bahkan cenderung menelantarkan sekolah.
“Setelah Pak Haryanto pergi, digantikan oleh Simon Bame. Tidak ada gebrakan, tidak ada kemajuan, malah menurun. Sekolah ditinggalkan dalam kondisi rusak, banyak kursi, meja, pintu, dan jendela yang hilang,” bebernya.
Charles selaku Komite Sekolah mempertanyakan kinerja Simon Bame yang kemudian pindah ke SMP Negeri Satu Atap Skori.
“Apa dasar dan nilai kualitasnya? Dia meninggalkan sekolah dalam keadaan hancur-hancuran,” ujarnya dengan nada kecewa.
Ia menambahkan, kekecewaan masyarakat semakin terasa karena SMPN 1 Kemtuk Gresi pernah mendapat perhatian langsung dari Bupati Jayapura. Namun, saat kunjungan tersebut, tidak ada keluhan yang disampaikan pihak sekolah.
“Saya sempat mendengar Bupati bilang, ‘kalian harus serius dengan sekolah ini, harus ada guru yang bisa memimpin sekolah ini menjadi baik.’ Sayangnya, keluh kesah justru disembunyikan,” jelas Charles.
Sebagai figur yang juga menjabat sebagai Dewan Adat yang mewakili 42 suku besar, Charles Wouw menegaskan pentingnya menghadirkan pemimpin sekolah yang berdedikasi seperti Haryanto. Meskipun berasal dari Jawa, menurut Charles, Haryanto memiliki hati dan pengabdian yang tulus untuk orang Papua.
“Jasanya tidak akan dilupakan. Dia adalah tenaga ahli dari Jakarta yang biasa memberikan identitas bagi guru-guru di Kabupaten Jayapura. Apa yang dibuat Haryanto harus dicontoh. Sekolah ini butuh pemimpin yang bisa mengembalikan marwahnya, dan kami ingin rekrutmen guru-guru baru juga melibatkan putra-putri asli Papua,” tegasnya.
Charles mengakui, saat ini masih ada kendala operasional seperti kedisiplinan guru yang kerap terlambat akibat jarak tempuh. Namun, pihaknya selalu memberikan pertimbangan. Yang terpenting saat ini adalah komitmen untuk membangkitkan kembali kejayaan SMP Negeri 1 Kemtuk Gresi.
“Atas nama Komite dan masyarakat adat, saya memohon dengan sangat: tolong kembalikan SMP Negeri 1 Kemtuk Gresi seperti yang semula. Kami ingin anak-anak sekolah bisa aktif belajar dan sekolah ini tetap eksis,” pungkasnya.
(Yan Mofu)











