Berita Papua, Sentani — Menghadapi Festival Danau Sentani (FDS) Agustus 2026, generasi muda Papua didorong untuk kembali menguasai budaya dan adat istiadat leluhur.
Seruan itu disampaikan tokoh adat Sentani, Ramses Wally, Pada Minggu 10 Mei 2026.
Ramses menegaskan, generasi muda merupakan aset penerus budaya dan adat.
“Suatu bangsa dikenal dari budaya dan adat istiadatnya. Jika generasi muda tidak dipersiapkan dan tidak memahami budaya dengan baik, maka mereka akan kehilangan masa depan bangsa itu sendiri,” ujarnya.
Ia meminta Pemerintah Kabupaten Jayapura tidak hanya berfokus pada seremoni dalam penyelenggaraan FDS 2026. Pemkab perlu menyiapkan grup-grup tari adat maupun modern mulai dari tingkat kampung.
“Persiapan harus dimulai dari tiap kampung, lalu ditampilkan dalam festival. Dengan begitu kita mengajak generasi muda turun ke kampung, menjadi motivator untuk menggerakkan pemuda lain belajar budaya dan tari-tarian,” kata Ramses.
Menurutnya, pendidikan formal saja tidak cukup untuk memahami jati diri.
“Banyak hal bisa dipelajari di bangku sekolah dan kuliah. Tetapi budaya dan adat tidak pernah didapat dalam materi sekolah, bahkan kurikulum. Untuk benar-benar memahami budaya, generasi muda harus turun ke kampung, belajar dari orang tua dan tokoh-tokoh adat. Kampung adalah laboratorium budaya leluhur sejak turun-temurun,” jelasnya.
Ramses menilai, kecerdasan akademik harus diselaraskan dengan nilai budaya agar membentuk karakter.
“Seseorang bisa pintar karena belajar di sekolah. Namun jika belum mengerti nilai budaya yang membentuk karakter, ilmunya tidak akan sinkron dengan jati dirinya. Di kampung, ia baru mengenal dirinya: ilmu bicara begini, tetapi nilai hidup saya pelajari langsung dari tokoh adat,” tambahnya.
Bagi masyarakat Papua, budaya dan adat merupakan nilai sakral pemberian Tuhan.
“Semua negara modern tidak pernah menyangkal budaya dan adat. Karena itu adalah dasar terbentuknya suatu negara. Negara ada karena budayanya, adatnya yang ada terlebih dahulu. Baru negara berdiri di atas adat istiadat itu,” ucapnya.
Ia menegaskan eksistensi orang Papua tidak terlepas dari adat.
“Sebelum kamu ada, kami ada. Sebelum kamu ada, adat sudah ada. Sebelum kamu ada, budaya kami sudah ada. Sejak Tuhan menciptakan langit dan bumi, Dia menempatkan leluhur-leluhur orang Papua. Wibawa dan kuasa Tuhan sudah diturunkan di atas pundak leluhur kami. Kami hidup dari tetesan darah mereka,” ungkap Ramses.
Di akhir pernyataannya, Ramses menegaskan identitas orang Papua.
“Siapapun, dari bangsa manapun, tidak bisa menggugat kami orang Papua. Sebab budaya adalah diri kami, dan budaya adalah hidup kami. Kami lahir dan hidup di dalam adat istiadat ini.”
Festival Danau Sentani 2026 dijadwalkan berlangsung Agustus mendatang. Ajang tahunan ini diharapkan menjadi momentum kebangkitan generasi muda Papua untuk melestarikan budaya di tengah arus modernisasi,” Pungkasnya.
(Yan Mofu)











