Berita Papua, Sentani — Yayasan Darul Ulum Doyo Baru dan Masjid Darul Ulum, Kabupaten Jayapura, melaksanakan penyembelihan hewan kurban pada Hari Raya Idul Adha 1447 H. Total hewan yang disembelih mencapai 13 ekor sapi dan 5 ekor kambing.
Yayasan Darul Ulum menyembelih 3 ekor sapi pada Rabu (27/5/2026). Hewan kurban tersebut berasal dari swadaya pengurus yayasan, guru TK, siswa TK, dan masyarakat sekitar. Sementara itu, Masjid Darul Ulum menjadwalkan penyembelihan 10 ekor sapi dan 5 ekor kambing pada Kamis (28/5/2026).
Ketua Panitia Kurban sekaligus Sekretaris Yayasan Panti Asuhan Darul Ulum, Upi Prihatini, SE., M.Si, mengatakan pendistribusian daging dilakukan tanpa kupon dan menyasar lebih dari 100 jiwa di lingkungan yayasan.
“Tiga kurban sapi ini sebagian dari pengurus yayasan, sebagian dari guru TK, anak TK, dan sekitarnya. Nanti pendistribusiannya juga kita bagikan di sekitaran yayasan Darul Ulum,” ujarnya.
Ketua Yayasan Darul Ulum, Mukhlasin, S.Pd, menegaskan prioritas penyaluran ditujukan bagi 47 anak yatim dan piatu binaan panti asuhan.
“Misi utama kita karena kami punya panti asuhan. Tujuan kita adalah menyalurkan hewan kurban ini ke anak-anak yatim piatu yang ada di Panti Asuhan Darul Ulum. Selebihnya untuk panitia dan anak-anak TK yang ada di TK Darul Ulum,” katanya.
Ia menjelaskan, langkah ini diambil karena selama ini anak-anak yatim belum secara khusus menerima hewan kurban dari yayasan. Pihak yayasan memprioritaskan fakir miskin dan anak yatim yang belum tercover oleh masjid atau pihak lain.
Dibandingkan tahun lalu, jumlah kurban yayasan berkurang. Pada Idul Adha 1446 H, yayasan menyembelih 3 ekor sapi dan 1 ekor kambing.
Untuk Masjid Darul Ulum, dari 10 ekor sapi yang akan disembelih, 9 ekor berasal dari swadaya masyarakat dan 1 ekor merupakan bantuan dari Pemerintah Kabupaten Jayapura.
“Masjid itu ada sembilan sapi dari kurban dan satu bantuan, jadi sepuluh sapi. Ditambah lima ekor kambing. Bantuan dari pemerintah daerah,” jelas Pengawas Yayasan Darul Ulum, Abdul Gani.
Abdul Gani berharap jumlah hewan kurban di yayasan dapat terus meningkat setiap tahun, tergantung pada kemampuan dan kesadaran masyarakat untuk berkurban.
Di sisi lain, Upi Prihatini menyampaikan kondisi sulit yang dialami panti asuhan dalam memenuhi kebutuhan 47 anak yatim binaan. Keterbatasan dana membuat yayasan belum memiliki asrama layak dan hanya bisa membagikan bantuan pokok setiap 5–6 bulan sekali.
“Kami mencari dana dengan mengajukan proposal ke setiap instansi, toko, dan tempat seputaran Jayapura, tapi kami selalu mendapatkan kegagalan karena keuangan sekarang sangat sulit,” katanya.
Saat ini para anak yatim masih tinggal bersama keluarga masing-masing. Upi berharap ada uluran tangan donatur maupun pemerintah, khususnya Dinas Sosial, untuk membantu.
“Kami himbau kiranya ada para donatur atau dermawan yang bisa menyentuh kami di Yayasan Panti Asuhan Darul Ulum. Saya minta kepada pemerintah, khususnya bagian sosial dari pemerintah daerah, lihatlah kami anak-anak yatim yang belum tersentuh,” harapnya.
Yayasan Darul Ulum sendiri lahir dari Masjid Darul Ulum. Jika penyaluran kurban masjid ditujukan bagi jamaah secara umum berdasarkan data kepala keluarga, maka yayasan lebih memfokuskan pada anak yatim dan siswa TK di lingkungan yayasan.
(Yan Mofu)











