Opini

Babak Baru mencari Pemimpin Menuju Gedung Putih Provinsi Papua

131
×

Babak Baru mencari Pemimpin Menuju Gedung Putih Provinsi Papua

Sebarkan artikel ini

Oleh: Hendrik Rikarsyo Rewapatara, Dosen HTN Fakultas Hukum Universitas Cenderawasih

Hendrik Rikarsyo Rewapatara

Berita Papua, Jayapura — Babak baru Proses Pemungutan Suara Ulang atau (PSU) pemilihan kepala daerah pilkada akan kembali dilaksanakan di Provinsi Papua.

PSU itu diselenggarakan lantaran pasangan calon wakil Gubernur Papua nomor urut 01 Yeremias Bisay harus di diskualifikasi oleh Mahkamah Konstitusi (MK) pada 27 Februari 2025.

Mantan Bupati Waropen itu didiskualifikasi karena cacat administrasi saat proses pendaftaran di Komisi Pemilihan Umum (KPU) Papua.

Dengan dibatalkannya Yermias Bisai (YB) tentunya, membuat publik bertanya, siapa yang cocok mendampingi dengan calon gubernur Papua Benhur Tomi Mano (BTM).

Tepat, pada hari Minggu 9 Maret 2025 BTM resmi umumkan Constan Karma (CK) sebagai calon wakil gubernur (Cawagub) Papua menggantikan Yeremias Bisay.

Sekadar diketahui, Constan Karma merupakan mantan wakil gubernur Papua periode 2000 – 2005. Kemudian, ia menjadi Penjabat Gubernur Papua 5 November 2012 sampai dengan 9 April 2013.

Pastinya, publik bertanya-tanya? dari sekian banyak putra-putri Saireri, mengapa BTM memilih Constan Karma sebagai Cawagub menggantikan Yeremias Bisay.

Pastinya, semua sudah melewati proses semaksimal mungkin untuk tentukan calon wakil gubernur mendampingi mantan Wali Kota Jayapura dua periode ini.

Sekarang, tinggal bagaimana pertandingan lanjutan ini mesti dilakukan secara baik agar melahirkan pimpinan untuk Provinsi Papua.

BTM – CK dan MARI – YO Kedua Paslon Merupakan Putra Terbaik Orang Asli Papua

Terlepas dari pertarungan menuju tahta gubernur Papua, perlu kita ketahui bahwa kedua pasangan calon baik Benhur Tomi Mano – Constan Karma dan Mathius Fakhiri – Aryoko Rumaropen merupakan orang asli Papua yang memiliki kulit hitam dan rambut keriting.

Selain itu, kedua paslon yang bertarung merupakan putra-putra terbaik di Tanah Papua.

Kenapa? Karena, untuk pasangan calon gubernur nomor urut 01, BTM adalah mantan Wali Kota Jayapura dua periode dan orang birokrat murni.

Selain itu, BTM juga mempunyai track record murni sewaktu mejabat sebagai Wali Kota Jayapura.

Dalam kepemimpinan Benhur Tomi Mano sebagai Wali Kota Jayapura selama 10 tahun lamanya, menorehkan beragam pretasi.

Prestasi yang diraih kota berjuluk “Hongkong” di waktu malam itu pada tahun 2021 dari berbagai sektor kemudian, dua kali menerima penghargaan “Harmony Award” dari Kementerian Agama Republik Indonesia pada 5 Januari 2021 dan Maret 2022.

Penghargaan itu diberikan lantaran dinilai sebagai kota yang mampu menciptakan keharmonisan antar suku, agama, dan ras.

Selanjutnya, pernah mendapat penghargaan Bersinar (Bersih Narkoba), dari Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Papua pada 16 Maret 2021.

Lalu, Kota Jayapura juga menjadi kota terbaik atas pembinaan Top Business dan menerima penghargaan Top BUMD Award 2021.

Tak sampai disitu, Kota Jayapura meraih penghargaan BKN Award 2021, dengan status tipe B peringkat 3 dari BKN RI, atas capaian dalam implementasi penilaian kinerja pada 13 Oktober 2021.

Selain itu, dimasa kepemimpinan BTM, juga tercatat sembilan kali memperoleh Wajar Tanpa Pengecualian (WTP), atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) dari BPK RI.

Masih di 2021, Pemkot Jayapura menerima penghargaan TP2DD dari Kementerian Koordinator Perekonomian RI dan penghargaan TPID kabupaten atau kota terbaik 2020 untuk wilayah Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua.

Lalu, mendapat anugerah layanan investasi pada November 2021, dari Kementerian Investasi BKPM.

Dari Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN), juga mendapatkan penghargaan anugerah meritokrasi dengan kategori baik.

Sementara Constan Karma bukan orang baru di dunia politik di Tanah Papua. Ia pernah jadi Sekretaris Daerah, dan Penjabat Gubernur Papua.

Sementara itu, pasangan calon gubernur nomor urut dua Komjen Polisi (Purn) Mathius Derek Fakhiri (MDF) merupakan mantan Kapolda Papua sebelum digantikan oleh Irjen Pol Patrige Renwarin.

Mathius Derek Fakhiri merupakan jenderal bintang tiga yang pernah menjabat Kepala Kepolisian wilayah Papua.

Selama perjalanan karier kepolisiannya, Mathius pernah menjabat berbagai posisi, mulai dari Pamapta hingga jabatan akhir sebagai Analisis Kebijakan Utama Bidang Brigade Mobil Korbrimob Polri dan pensiun pada 28 Agustus 2024.

Selain itu, Mathius juga memiliki berbagai prestasi dalam bidang olahraga, di mana ia pernah meraih Piala Presiden pertama ke Papua bersama kontingennya.

Setelah pensiun dari kepolisian, Mathius memutuskan untuk terjun ke dunia politik, dapat dikatakan pencalonan dirinya sebagai calon Gubernur di Pilkada 2024 merupakan sebagai hal perdana pada karier politiknya.

Bahkan, sewaktu menjabat Kapolda Papua, MDF membuat gebrakan penerimaan Anggota Polri yang memprioritaskan Orang Asli Papua (OAP).

Selain itu, rekam jejak MDF menuntaskan beberapa kasus besar di Tanah Papua membuat beliau mendapat kenaikan pangkat menjadi Komisaris Jenderal (Komjen) Polisi.

Sementara Aryoko Rumaropen adalah mantan Kepala BPKSDM Papua, walaupun tidak setenar lainnya namun Aryoko adalah orang asli Papua.

Lantas, apa yang membuat masyarakat Papua ragu atas kedua paslon terbaik ini?

Menurut saya, tidak salah masing-masing kandidat mempunyai Tim pemenang yang bekerja untuk meraih kemenangan.

Tapi, lebih sportif jika bekerjalah dengan cara yang jujur agar lahirkan pemimpin yang terberkati untuk tanah Papua.

Mengapa demikian, karena jika lakukan permainan kotor untuk melangkah menjadi pemimpin, alam dan tanah Papua tidak akan merestui.

Ingat, berpolitik secara baik supaya tidak ditelan oleh kejamnya Tanah Papua.