Politik

Menjaga Api Perdamaian Almarhum Dinar Kelnea, Tokoh Intelektual Nduga Ajak Masyarakat Tidak Provokasi di Media Sosial

0
×

Menjaga Api Perdamaian Almarhum Dinar Kelnea, Tokoh Intelektual Nduga Ajak Masyarakat Tidak Provokasi di Media Sosial

Sebarkan artikel ini
Tokoh Intelektual muda Nduga, Arim Tabuni.

Berita Papua, Jayapura — Sebuah video yang beredar luas di media sosial dan aplikasi WhatsApp yang menyudutkan dan dinilai berpotensi memicu kegaduhan serta konflik horizontal di Kabupaten Nduga, Papua Pegunungan. Menanggapi hal tersebut, Arim Tabuni, intelektual muda Nduga, angkat bicara memberikan klarifikasi sekaligus imbauan kepada masyarakat untuk bersama-sama mengawal proses politik dengan cara damai.

Ia menjelaskan bahwa agenda politik di Nduga saat ini tengah memasuki babak baru pasca wafatnya Bupati Dinar Kelnea.

“Posisi saya saat ini di Jayapura sedang mengikuti proses pengisian Wakil Bupati Kabupaten Nduga. Seperti yang diketahui, Bupati Dinar Kelnea telah meninggal dunia. Jabatan Bupati sudah diisi oleh Yoas Beon yang sudah didefinitifkan, dan hari ini kita menghadapi pengisian kekosongan Wakil Bupati,” ujar Arim Tabuni di Jayapura, Minggu (8/3/2026).

Terkait pengisian posisi wakil bupati, Arim menjelaskan terdapat 2 nama calon yang masuk, yakni Maniap Kogoya dan Paulus Ubruangge.

Ia menyoroti bahwa ke-2 calon tersebut masih memiliki hubungan keluarga cukup dekat yakni seperti anak dan bapak.

“Kami sebagai intelektual dan masyarakat yang peduli terhadap daerah, kita harus kawal sama-sama. Jangan sampai proses yang berjalan ini justru memicu konflik baru,” tegasnya.

Arim juga meluruskan konten video yang belakangan ini viral yang dikaitkan dengan dirinya maupun situasi politik di Nduga. Ia dengan tegas menyebut bahwa narasi dalam video tersebut tidak sesuai dengan fakta di lapangan.

“Yang mau saya klarifikasi adalah terkait video yang tersebar di WhatsApp maupun media sosial. Menurut saya, isi video itu tidak benar. Saya minta teman-teman semua untuk menahan diri dan juga emosi,” imbaunya.

Arim mengaku prihatin karena penyebaran informasi yang tidak akurat di era digital dapat berdampak luas hingga ke ranah global dan berpotensi merugikan masyarakat Nduga sendiri.

“Kita sedang mengawal pansus DPRK, jangan sampai masyarakat yang tidak paham masalah jadi korban. Minggu-minggu depan isu politik ini akan sangat krusial di Nduga. Jangan sampai kita terprovokasi oleh opini-opini yang miring dan tidak benar,” tegasnya.

Ia mengingatkan agar masyarakat tidak mudah terpancing emosi di media sosial.

Sebab menurutnya, perbedaan pendapat di grup percakapan adalah hal biasa, namun semuanya harus dikembalikan pada semangat menjaga kedamaian yang telah dibangun.

Dalam kesempatan itu, Arim juga mengenang kepemimpinan almarhum Bupati Dinar Kelnea yang dinilai berhasil menanamkan benih-benih perdamaian di Kabupaten Nduga.

“Kekhawatiran saya adalah karena kita orang Nduga ini sering mengalami konflik horizontal. Padahal, almarhum Pak Dinar Kelnea dan Pak Yoas Beon sudah berhasil mendamaikan itu. Itu adalah sejarah dan kemenangan kita bersama, bukan kemenangan bupati semata. Almarhum sudah menyelesaikan banyak masalah dan membawa pesan damai. Untuk itu kita harus bersyukur,” bebernya.

Menyikapi unggahan menyudutkan dirinya yang dinilai tidak benar, Arim Tabuni meminta para pengguna media sosial untuk lebih bertanggung jawab.

Ia mengingatkan bahwa apa yang dianggap biasa oleh sebagian orang, bisa saja melanggar hukum, terutama Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

“Hari ini kita hidup di era digital. Apa yang kita bicarakan dan unggah di media sosial bisa dilihat oleh seluruh dunia. Orang luar akan menilai kita salah, padahal masalahnya belum tentu benar. Untuk itu, saudara-saudara yang memposting video dan informasi, kami tunggu klarifikasinya. Kita perlu sama-sama sadar agar tidak menjadi korban dari informasi palsu,” pungkasnya.

(Redaksi)