BeritaPapua.co, Jayapura — Cara mengatasi dan mengevakuasi warga di saat akan terjadi bencana alam gempa bumi dan tsunami, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) RI melakukan pendampingan kepada pemerintah kota Jayapura menggelar workshop.
Workshop pendampingan tersebut meliputi, pendataan survei pertanahan di wilayah-wilayah pesisir pantai yang berdampak gempa bumi dan tsunami, pemasangan jalur evakuasi dan rambu-rambu bencana, Destana (Desa Tanggung Bencana), pendampingan penyusunan rencana kontigensi dan tsunami akan di gelar pada 8-10 Juni 2023.
Asisten 2 Bidang Pembangunan Setda Kota Jayapura, Widhi Hartanti mengatakan, kota Jayapura menjadi salah satu dari 30 kabupaten kota yang mendapatkan pendamping untuk penanggulangan bencana alam.
“Kota Jayapura menjadi salah satu kota yang zona 1 rawan gempa,” ujarnya.
Sebab kata Widhi, sejak awal tahun 2023 kota Jayapura diterjang gempa bumi terus-menerus, sehingga pemerintah pusat melalui BNPB melakukan pendampingan dalam rangka penyusunan rekon bencana tsunami.
“Ini dilakukan supaya kita bisa menyusun perencanaan, bagaimana nanti menghadapi gempa bencana tsunami di kota Jayapura kita tidak kaget lagi, sudah ada perencanaan sebelumnya bagaimana kita mengatasi dengan adanya gempa yang akan terjadi,” bebernya.
Sementara itu, Analisis Monitoring Evaluasi BNPB RI, Muhammad Adrian mengatakan workshop tersebut bertujuan menyepakati skenario kejadian berdasarkan histori bencana sudah yang terjadi.
“Selanjutnya kita akan melakukan identifikasi sumber daya yang diperlukan yaitu sumber daya manusia (SDM) Sumber Daya Peralatan maupun Logistik dalam proses manajemen penanggulangan bencana khususnya di kota Jayapura,” ujarnya.
Kepala BPBD Kota Jayapura, Asep M Khalid menjelaskan, ada 6 kampung dan kelurahan yang akan dipasang sirene atau alarm peringatan bencana alam gempa bumi dan tsunami.
“6 kelurahan dan kampung, Tanjung Ria, Mandala, Bhayangkara, Hamadi, Skouw Mabu – Holtekamp,” ungkapnya.
Kata Asep, pemasangan dan pendampingan maupun survei tahun ini rencananya sudah terealisasi.
“Tahun ini rambu-rambu jalur evakuasi sudah terpasang. Tahun ini juga direncanakan Renkon sudah jadi tahun ini, juga direncanakan pendamping desa tangguh bencana sudah harus jalan dengan survei pertanahan kapasitas masyarakat di pesisir,” tandasnya.
(Renaldo Tulak)











