Olahraga

Errics Warikar Soroti Kinerja Pengprov IMI Papua, Desak Segera Gelar Rakerda

6
×

Errics Warikar Soroti Kinerja Pengprov IMI Papua, Desak Segera Gelar Rakerda

Sebarkan artikel ini
Korwil IMI Biak-Supiori, Errics Warikar Saat Memberikan Keterangan Pers Didepan Kantor Sekretariat Pengprov IMI Papua di Jayapura

BeritaPapua.co, Jayapura — Korwil Ikatan Motor Indonesia (IMI) Biak Supiori Errics Warikar mendesak pengurus IMI Provinsi Papua segerah menggelar Rapat kerja (Rakerda) sehingga dapat menentukan regulasi-regulasi atau peraturan Balap Motor sebagai acuan bagi IMI di daerah.

“Saya Errics Warikar dari Supiori Saireri, saya datang ke Jayapura Provinsi Papua ini, untuk menanyakan Rapat kerja cabang olahraga atau yang disebut IMI, karena selama dekade ini tidak pernah ada Rapat Kerja, sehingga kami di daerah bingung karena tidak ada regulasi-regulasi , atau peraturan olahraga sepeda motor IMI di daerah,”
demikian dikatakan Korwil IMI Supiori, Errics Warikar saat dijumpai di Kota Jayapura, Rabu 17 Mei 2023.

Errics Warikar mencontohkan KONI Papua yang sudah melakukan Rapat Kerja, sementara cabang-cabang olahraga khusus Balap Motor di IMI belum ada Rapat Kerja, oleh sebab itu dengan tegas Errics meminta kepada pengurus IMI Papua agar segera menggelar Rapat Kerja yang jelas sehingga semua hal menjadi jelas.

“Saya minta kepada Ketum dan juga ketua harian, coba ketua harian itu aktif ka, untuk menanyakan mengkoordinasikan kepada bidang-bidang yang sudah ada, supaya kami juga bisa diinformasikan bahwa ada Rapat Kerja. Kemudian tolong mempermudah pembuatan registrasi-registrasi dari klub-klub balap motor, karena registrasi dari klub ini yang menghidupi IMI,” ungkap Putra Saireri pemilik Tim Babe S D45 Supiori itu.

Lebih jauh ia menyebutkan, IMI bukanlah cabang olahraga yang mencari keuntungan. IMI hidup di club-club, sehingga dirinya tak mau ada boncengan-boncengan atau kepentingan-kepentingan. Ini yang terjadi dan itu yang selama ini dilihat dan dirasakan, kepentingan politik sangat besar, dan bisnis dalam IMI sangat luar biasa.

“Betul ini tahun politik, tetapi tolong lihat tupoksi, saya juga orang politik, bisnis man tetapi saya juga tidak pernah menggabungkan antara IMI, Politik dan Bisnis, karena IMI ini adalah Hobby kita, hobi kita berartikan apapun biayanya ya kita bisa keluarkan, cuma regulasinya harus jelas. Jadi tolong manajemen dievaluasi kembali, di IMI provinsi ini, supaya semuanya bisa berjalan dengan bagus,” tegas Warikar.

Errics Warikar juga menghimbau kepada para pemilik klub dari Tabi sampai Saireri untuk melakukan evaluasi. Coba kembali kita mengevaluasi, serta aktif dalam kepengurusan klub-klub supaya mempermudah IMI.
Dalam melakukan evaluasi dengan mengumpulkan semua klub sehingga ada kordinasi yang baik dan ada kejelasan, karena sedikit lagi kita masuk ke PON XXI 2024 di Aceh,” paparnya.

“Saya tidak mau lagi seperti tahun-tahun kemarin, tahun kemarin IMI selalu membeli pembalap dengan nilai yang besar, sedangkan kalau uang yang besar itu kita biayai untuk adik-adik kita kasi sekolah balap maka itu sudah cukup dan mungkin sampai sekarang mereka bisa menjadi pembalap hebat,” beber yang juga selaku Ketua DPRD Supiori.

Ia juga menyarankan agar uang Otsus yang besar itu stop digunakan untuk pake beli pembalap dari luar Papua. Ini tidak ada pembinaan sama sekali, dimana proteksi, keberpihakan dan pembinaan yang selama ini digembor-gemborkan dalam Undang-undang kekhususan Otsus bagi orang asli Papua, kalau toh uang otsus besar itu digunakan untuk membeli pembalap dari luar Papua.

“Saya ambil contoh pembalap yang dibeli dari luar Papua saat itu untuk tampil di ajang PON XX Papua, nah sekarang PON uda selesai, pembalap-pembalap ini memiliki KIS (Karti Izin Star) sementara meraka tidak berdomisili di Papua. Inikan 1 kondisi yang kurang bagus dan tolong dihapuskan KIS-KIS yang kemarin menyangkut PON itu, supaya adik-adik kita dari Papua yang pembalap ini mereka juga bisa tumbuh menjadi besar sebagai seorang pembalap profesional,” harapannya.

Errics Warikar menyebutkan juga agar manajemen IMI pikirkan untuk KIS Papua. Selama ini ada event-event besar ada kis-kis Papua tetapi pembalapnya tidak berdomisili di Papua.

“Walaupun ko bawa nama Papua balap di luar Papua, tetapi kalau ko tidak domisili di Papua, lebih baik jangan, karena itu adalah pembalap-pembalap yang mencari keuntungan didalam IMI,” terangnya.

lanjut dia, bagaimana mau mengangkat harkat dan martabat anak Papua, kalau cara-cara dan model seperti ini masih dilakukan terus menerus.

“Kita juga mau mengangkat harkat dan martabat anak-anak Papua, yang tumbuh besar di balap motor ini, yaitu di IMI. Saya berharap begitu. Saya minta untuk tolong evaluasi kembali, Ketum dan juga Ketua harian aktif kembali untuk melihat hal itu,” pungkasnya serius.

Errics Warikar juga menyinggung soal regulasi khusus balap motor, dimana dalam regulasi per kelas bahkan dirinya meminta untuk diperjelas sehingga bibit-bibit pembalap yang sudah dibentuk bisa masuk dalam regulasi kelas-kelas yang ada.

“Disitu Kan tidak dijelaskan dengan baik, kelihatannya kelas-kelas utama yang dilakukan ini, regulasi amburadul, Cuma karena kepentingan perut, kepentingan big bos, kepentingan Power in the money akhirnya bikin regulasi yang tak karuan. Itu yang membuat selalu bibit-bibit pembalap asli dari Papua tidak mendapatkan kesempatan untuk berkembang karena ada selalu kita pakai orang-orang atau pembalap dari luar Papua untuk Judi saja, judi saja, ini tidak boleh pake judi dalam IMI, stop beli Pembalap,” tutupnya.

(Yesaya Mansawan)