Berita Papua, Jayapura — Kepala Perwakilan Komnas HAM Papua, Frits Ramandey, mengaku kesal atas insiden kerusuhan yang terjadi usai pertandingan perebutan tiket ke liga 1 antara Persipura Jayapura melawan Adhyaksa FC di Stadion Lukas Enembe, Jayapura, pada Jumat (8/5/2016).
“Pertama, kita menyesali tragedi ini ya, ada kerusuhan di sepak bola,” ujar Ramandey kepada wartawan usai meninjau dan mengindentifikasi lokasi di stadion Lukas Enembe, Jayapura, Sabtu (9/5/2016).
Ia mengungkapkan bahwa pihaknya sebelumnya telah mengeluarkan rilis yang memperingatkan potensi kerusuhan dalam laga playoff tersebut, termasuk potensi tindakan rasis yang dapat berbuntut panjang.
Ramandey menegaskan bahwa meskipun Persipura tidak memiliki catatan sejarah terkait tindakan rasis, klub ini pernah mengalami insiden kerusuhan pada tahun 2013.
“Itu berulang lagi sekarang ini,” katanya.
Komnas HAM hadir di lokasi untuk melakukan pemantauan terhadap dampak kerusuhan, terutama pada fasilitas publik. Lembaga tersebut juga akan mengevaluasi pihak penyelenggara serta aparat kepolisian terkait pemberian izin turnamen.
“Bagaimana penilaian untuk memberi izin,” tegas Ramandey.
Selain itu, operator liga juga akan dimintai keterangan. “Siapa yang bertanggung jawab terhadap persiapan dan pelaksanaan itu? Terutama operator dan panitia penyelenggara,” ujarnya.
Meski menyoroti sejumlah kelemahan, Komnas HAM memberikan apresiasi kepada aparat kepolisian yang dinilai cukup hati-hati dalam mengendalikan massa yang melakukan tindakan anarkis.
“Memang kami menemukan beberapa tabung gas air mata, tetapi kalau melihat dari berbagai video yang beredar, tindakan itu memang harus diambil oleh polisi,” kata Ramandey.
Berdasarkan catatan sementara Komnas HAM, insiden ini mengakibatkan kerugian material yang signifikan, antara lain:
· Sekitar 20 unit mobil mengalami kerusakan.
· 10 unit sepeda motor rusak.
· Sejumlah fasilitas dan ruangan yang dirusak.
Komnas HAM saat ini tengah mendalami faktor pemicu utama kerusuhan, termasuk menilai apakah atribut atau perlengkapan yang digunakan dalam pertandingan turut menjadi pemicu di luar faktor kekalahan.
“Tentu kami akan minta untuk menilai VAR yang dipakai. Apakah itu juga menjadi trigger yang memicu, selain kekalahan?” pungkas Ramandey.
(Renaldo Tulak)











