Berita Papua, Merauke — Masyarakat kawasan transmigrasi Muting bersama Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Gadjah Mada (UGM) 2026 membacakan Deklarasi Komitmen Anti Kekerasan dan membentuk Forum Ruang Aman Perempuan Kawan GEDSI (Gender Equality, Disability, and Social Inclusion).
Langkah ini ditujukan untuk menghadirkan perlindungan dan kesetaraan bagi perempuan serta kelompok rentan di wilayah perbatasan.
Kegiatan yang digagas melalui kerja sama UGM dengan Kementerian Transmigrasi RI itu sekaligus menjadi momentum peluncuran program Sekolah Puan Ujung Timur.
Pembacaan deklarasi dipimpin perwakilan perempuan sekaligus Ketua Forum GEDSI Kawasan Transmigrasi Muting terpilih, Umi Rachmawati bersama masyarakat setempat. Pembacaan itu disebut sebagai bentuk ketegasan warga memutus rantai kekerasan berbasis gender di wilayah perbatasan Indonesia.
“Deklarasi ini merupakan ikrar dan langkah perjuangan awal bersama kami menuju kehidupan yang adil, setara, dan bebas dari kekerasan,” ujar Umi.
Dalam Deklarasi dan Pernyataan Sikap Perempuan Ujung Timur, peserta forum mengikrarkan 5 poin utama:
1. Penolakan kekerasan dan diskriminasi
2. Penyediaan ruang aman dan pembelajaran
3. Keberpihakan penuh pada korban
4. Kemandirian ekonomi berkelanjutan
5. Integritas dan sinergi komunitas
Koordinator Lapangan TEP UGM GEDSI 2026, Alfi Syahri Lubis dalam pemaparan materinya menyebut masih ada anak perempuan yang putus sekolah akibat pernikahan dini dan dikucilkan dari lingkungannya. Ada pula korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), kekerasan seksual, dan pelecehan yang memilih diam. Menurutnya, kondisi ini perlu menjadi kesadaran bersama.
Anggota TEP UGM 2026, Aqilla Fatikhatus mengatakan program Sekolah Puan Ujung Timur menjadikan forum ini ruang belajar bersama.
“Tim Ekspedisi Patriot UGM 2026 melalui program Sekolah Puan Ujung Timur menjadikan forum ini sebagai ruang belajar bersama dalam hal pemberdayaan perempuan, sekaligus penguatan ekonomi berbasis kawasan mandiri,” ujarnya.
Kegiatan ini merupakan bagian dari sinergi diskusi kelompok terfokus (FGD) kedua yang digelar 29 September 2026 di Kampung Bupul Indah. FGD tersebut melibatkan pemangku kepentingan dari tingkat distrik hingga akar rumput. Hadir Komandan Koramil (Danramil), Kapolsek, Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK), perangkat kampung, serta perwakilan perempuan dari Bupul 1 hingga Bupul 13.
Forum dan Sekolah Puan diharapkan menjadi fondasi berkelanjutan bagi kawasan transmigrasi yang aman, setara, dan bebas dari kekerasan di ujung timur Indonesia.
(Renaldo Tulak)











