Berita Papua, Jayapura — PT Freeport Indonesia (PTFI) mengintensifkan pengembangan sumber daya manusia (SDM) Papua melalui Institut Pertambangan Nemangkawi (IPN), sebuah pusat pelatihan vokasi di Kabupaten Mimika, Papua Tengah, yang telah meluluskan lebih dari 4.000 siswa sejak berdiri pada 2003.
“Investasi di sektor pendidikan merupakan bagian strategis dalam investasi sosial perusahaan. Fokus kami untuk memastikan generasi muda Papua mendapatkan keterampilan nyata yang dapat dipakai untuk bekerja dan membangun karier,” ujar Senior Vice President Community Development PTFI Nathan Kum di Timika, Senin (25/11/2025).
Nathan menjelaskan bahwa PTFI mengembangkan program pendidikan bertingkat, mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi, termasuk sekolah vokasi dan beasiswa lanjutan. IPN dirancang sebagai lembaga pendidikan vokasi non-formal yang membekali generasi muda Papua dengan kemampuan teknis dan disiplin kerja yang dibutuhkan industri pertambangan.
“Beragam program yang kami jalankan membentuk sebuah ekosistem pendidikan yang terintegrasi, mulai dari pelatihan di kelas hingga pengalaman langsung di lapangan,” kata Nathan.
Data menunjukkan bahwa sekitar 90 persen dari 4.000 siswa yang telah mengikuti pelatihan di IPN merupakan Orang Asli Papua (OAP). Dari jumlah tersebut, 71 persen lulusan kini bekerja di PTFI maupun perusahaan kontraktor.
Isai Kum, alumni IPN dari Suku Amungme, kini bekerja sebagai karyawan tetap PTFI setelah menjalani program Apprentice sebagai Operator Haul Truck. “Di IPN, saya tidak hanya belajar teknik, tetapi juga disiplin, keselamatan kerja, dan kerja sama tim. Saya bangga bisa kembali bekerja di tanah kelahiran saya dan ikut membangun Papua lewat pekerjaan ini,” katanya.
Sri Ningsih W. Watora, perempuan Suku Kamoro lulusan jurusan Electrician, mengaku IPN membuka peluang bagi perempuan Papua untuk berkarier di industri pertambangan. “Sertifikasi, pengalaman praktik, dan bimbingan instruktur membuat saya percaya diri bersaing di perusahaan mana pun,” ujarnya.
Pada 2024, sebanyak 289 peserta terpilih mengikuti Program Pelatihan Siswa (Apprentice) dari 4.938 pendaftar. Komposisi peserta terdiri dari 82 orang Suku Amungme, 96 orang Suku Kamoro, dan sisanya dari lima suku kekerabatan lainnya. Sebanyak 70 orang dari total peserta adalah perempuan.
“Ini adalah komitmen IPN dalam keberpihakan kepada masyarakat asli daerah dan inklusivitas gender,” kata Nathan.
Program pelatihan di IPN mencakup Pelatihan Mekanikal dengan empat keterampilan spesifik: Kelistrikan, Pengelasan, Mekanik Alat Berat, dan Mekanik Pabrik. Selain itu, tersedia juga Pelatihan Operator Alat Berat dan Pekerja Tambang Bawah Tanah (Miner).
IPN juga mengembangkan program kewirausahaan melalui Papuan Bridge Program Youth Entrepreneurship (PBP YET). “Melalui program ini, anak-anak muda Papua belajar bagaimana menciptakan peluang usaha, inovasi bisnis, dan kemandirian ekonomi, melalui pelatihan, pendampingan, dan akses terhadap sumber daya,” pungkas Nathan.
(Redaksi)











