Papua

Peringati Hari Tanpa Tembakau di Jayapura: Generasi Emas Papua Butuh Makanan Bukan Rokok

0
×

Peringati Hari Tanpa Tembakau di Jayapura: Generasi Emas Papua Butuh Makanan Bukan Rokok

Sebarkan artikel ini
Tampak Foto Bersama Perayaan Hari Tanpa Rokok Sedunia di Jayapura

BeritaPapua.co, Jayapura — Dengan mengusung tema, Generasi Emas Papua Butuh Makanan Bukan Rokok, Yayasan Abdi Sehat Indonesia (Yasin) Jayapura bersama Korem 172 PWY Jayapura menggelar perayaan Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2023.

Perayaan serupa juga dilakukan hampir di beberapa daerah di Indonesia bahkan di belahan dunia lainnya, dihadiri oleh perwakilan Dinas Kesehatan Provinsi Papua, Dinas Kesehatan Kabupaten Jayapura, Universitas Cendrawasih, FKM, Poltekkes, USTJ, TNI, Tenaga Medis, Guru, Siswa SMU, STIMIK Jayapura, dan mahasiswa FKM, digelar di Maber Korem 172 PWY Jayapura, Rabu (3/5/23).

Pada perayaan tersebut juga dirangkaikan dengan pencanangan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Uncen.

Kepala dinas kesehatan kabupaten Jayapura Khaerul Lie, Direktur Yasin Jayapura, Wahyuti, Letkol CKM Dandenkesyah Waena, Susan

Kepala dinas kesehatan kabupaten Jayapura, Khaerul Lie yang memberikan orasinya bahwa angka prevalensi secara nasional merokok di Indonesia kira-kira 33,8%, bahkan untuk Papua 36% lebih tinggi dari nasional.

“Di Papua juga perokok pemula sudah mulai banyak, dari angka nasional ternyata ada 62% laki-laki yang merokok dan perempuan ada 4,8%,” ungkapnya.

Khaerul menjelaskan, berdasarkan data ternyata perokok berasal dari keluarga miskin 27,3% sementara keluarga yang kaya 19,5%.

“Bayangkan keluarga miskin ini mengeluarkan 7 kali lipat dari pendapatannya dibanding membeli daging. Dan keluarga miskin ini mengeluarkan 3,8 kali pengeluaran untuk beli rokok dibanding biaya pelayanan untuk kesehatan,” tandasnya.

Kata dia, memang pendapatan negara dari rokok cukup besar sekitar 56 triliun di APBN namun kerugian akibat rokok di bidang kesehatan sekitar 378,75 triliun.

“Ini hasil penelitian yang di hitung para profesor kita,” bebernya.

Sementara itu, Letkol CKM Dandenkesyah Waena, Susan mengatakan, mari berkomitmen untuk diri sendiri, keluarga dan anak cucu kita untuk segera berhenti merokok.

“Pesannya Yang merokok berhentilah dari sekarang,” tegasnya.

Direktur Yasin Jayapura, Wahyuti menyebut hasil penelitian yang dilakukan terhadap KTR pada tahun 2018 setelah disahkan tahun 2015 ternyata tingkat kepatuhan masyarakat hanya 17%.

“Disini memunculkan keprihatinan bahwa ada aturan dibuat untuk kawasan tanpa rokok tetapi implementasinya hanya 17%. Jadi ada aturan tapi tidak tersosialisasi dengan baik,” ungkapnya.

Meski demikian, pihaknya juga melakukan penelitian terhadap 1.555 pelajar di kota Jayapura di Februari tahun 2020 namun hasilnya mengejutkan angka perokok pemula cukup tinggi.

“Kami meneliti dimulai dari tingkat siswa SD sampai SMA dan hasilnya adalah 34,9% perokok pemula yang ada di kota Jayapura, Itu angka tinggi sekali,” bebernya.
Kata Wahyuti, pihaknya terus melakukan advokasi mendorong pemerintah dan stakeholder lainnya untuk lebih jauh mengenal apa tujuan dibuat perda KTR.

“Pemerintah khususnya Kemendagri RI dan Kemenkes telah mendorong pemerintah di daerah untuk membuat Perda KTR. Nah, Yasin kami ada disitu. Membantu pemerintah daerah untuk mengadvokasi bagaimana stakeholder dan pemerintah membuat suatu aturan KTR. Semoga adanya kebijakan ini dalam membuat Perda KTR itu akan signifikan hasilnya dengan apa yang telah kami upayakan dalam mensosialisasikan Perda KTR,” tukasnya.

Wahyuti menambahkan bahwa dalam mendorong perubahan perilaku tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Diketahui KTR itu ada 7 Ruang lingkup yaitu fasilitas pelayanan kesehatan, tempat proses belajar mengajar, tempat anak bermain, tempat ibadah, angkutan umum, tempat kerja, tempat umum dan tempat lain yang ditetapkan.

Kawasan tanpa rokok ini bertujuan untuk mengatur orang yang merokok pada tempatnya dan memberikan hak udara yang bersih dan sehat bagi perokok pasif.

(Renaldo Tulak)