Berita Papua, Sentani — Rektor Universitas Jayapura, Bernardikus Patrick Daundi berharap 90 lulusan yang baru diwisuda dapat mengaplikasikan ilmunya langsung ke masyarakat, terutama di wilayah pedalaman Papua.
“Hari ini kita sudah mewisudakan 90 mahasiswa dengan prestasi yang luar biasa. Harapan kami ilmu yang mereka dapat bisa dikembangkan lebih kepada arah pelayanan,” kata Bernardikus, Sabtu (9/5/2026).
Lulusan berasal dari Prodi S1 Keperawatan, S1 Farmasi, Profesi Bidan, dan Profesi Ners. Wisuda kali ini menjadi yang pertama sejak STIKES resmi berubah status menjadi Universitas Jayapura pada 12 Desember 2024.
“Dulu kami STIKES , berdiri 2009. Kampus pertama di Caravan. Tahun 2017 pindah ke Jalan Yomake, Tabita. Status sekolah tinggi kesehatan itu sampai 2024, bulan Desember tanggal 12, SK perubahan bentuk ke universitas keluar. Jadi sekarang kami statusnya universitas,” jelasnya.
Selama berstatus STIKES, kampus ini telah 12 kali menggelar wisuda sejak 2012.
“Tapi sebagai universitas, kita baru satu kali ini,” tambahnya.
Bernardikus meminta lulusan tidak menumpuk di kota.
“Kami berharap mereka juga bisa kembali ke masyarakat mengaplikasikan ilmu yang sudah didapat. Jangan selalu terkumpul di kota. Mereka juga mau membantu masyarakat, saudara-saudara di pedalaman, karena di pedalaman ini mereka lebih dibutuhkan,” tegasnya.
Menurutnya, tenaga kesehatan di kota sudah terlalu banyak bahkan ada yang menganggur.
“Tapi kalau mereka pergi ke Papua Pegunungan atau Kabupaten Jayapura yang sedikit ke arah perkampungan, peluang kerjanya lebih besar,” kata Rektor.
Ia juga berharap pemerintah melihat peluang SDM anak-anak Papua.
“Kami juga butuh informasi kira-kira ada peluang tenaga kontrak di daerah, biar mereka juga bisa tahu,” ujarnya.
Bernardikus mendorong kolaborasi dengan pemerintah daerah.
“Kami berharap juga dilibatkan dalam beberapa program daerah. Memang kami sudah bergerak dengan program kami sendiri, lewat Tridharma Perguruan Tinggi. Salah satunya pengabdian kepada masyarakat. Kita sudah buat beberapa kegiatan di kampung-kampung, kasih sosialisasi, bantuan,” katanya.
Namun kerja sama dengan pemerintah dinilai lebih efektif.
“Kalau bekerja sama dengan pemerintah mungkin lebih baik karena mereka punya tenaga-tenaga yang biasa turun ke lapangan. Kalau kita mahasiswa dan dosen menghabiskan banyak waktu di kampus. Jadi memang kita butuh ada informasi. Kalau dari pemerintah daerah butuh buah pikiran, kami siap memberikan buah pikiran dari sudut pandang akademisi,” pungkas Bernardikus.
(Yan Mofu)











