Berita Papua, Sentani — Genangan air pasang di kawasan Danau Sentani masih belum menunjukkan tanda-tanda surut hingga hari ke-5.
Kondisi ini berdampak langsung pada aktivitas ekonomi masyarakat, terutama para mama Papua yang berjualan di kawasan Dermaga Pantai Yahim, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Selasa (31/3/2026).
Berdasarkan pantauan di lapangan, para pedagang lokal tersebut terpaksa berjualan dengan kondisi kaki terendam air.
Air yang meluap dari badan danau akibat tingginya intensitas hujan dan banjir di wilayah Kabupaten Jayapura ini membuat area sekitar dermaga tergenang.
2 warga lokal Kampung Yahim sekaligus pedagang di lokasi, Ruth Felle dan Yulianti Felle, mengungkapkan bahwa ketidaknyamanan ini sudah mereka rasakan sejak 5 hari terakhir.
“Kami duduk berjualan, tetapi kaki terendam di dalam air. Tempat jualan kami jadi tidak layak. Setiap hari debit air terus bertambah naik, dampaknya sangat besar bagi kami mama-mama yang mencari nafkah di sini,” ujar Ruth dan Yulianti saat ditemui di lokasi.
Para pedagang mengaku mulai merasa khawatir dengan kondisi cuaca ekstrem yang terjadi. Mereka menyebutkan bahwa jika hujan dengan intensitas tinggi masih terus berlangsung selama satu minggu ke depan, maka air dipastikan akan semakin naik dan menutupi seluruh tempat berjualan.
“Jika sampai tempat jualan terendam total, kami tidak tahu lagi mau berjualan di mana. Kami hanya bisa menunggu, dan jika hujan terus, kami terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman,” tutur mereka.
Selain merendam lapak, dampak air pasang ini juga berdampak pada omzet penjualan. Para pedagang mengeluhkan jumlah pembeli yang berkunjung kini semakin berkurang dibandingkan hari-hari biasanya.
Menanggapi situasi tersebut, Mama-mama Papua yang merupakan pedagang lokal di Pantai Yahim berharap agar Pemerintah Kabupaten Jayapura dapat memberikan perhatian serius.
Mereka meminta agar difasilitasi tempat berjualan yang lebih layak dan nyaman, sehingga aktivitas ekonomi mereka dapat berjalan dengan aman meskipun di tengah kondisi alam yang tidak menentu.
“Kami berharap pemerintah bisa mengupayakan tempat yang layak dengan fasilitas yang membantu. Supaya ada rasa nyaman untuk kami berjualan,” pungkas mereka.
(Yan Mofu)











