Berita Papua, Sentani — Bupati Jayapura, Yunus Wonda, secara resmi membuka sekaligus memimpin langsung penanaman pohon sagu di kawasan Kehiran II, dekat Tugu Hiloy, Sentani, Senin (30/3/2026).
Dalam sambutannya di hadapan jajaran pemerintah daerah, Forkopimda, tokoh agama, hingga masyarakat adat, Bupati mengeluarkan peringatan tegas terkait pelarangan penjualan lahan sagu untuk perumahan.
Penanaman ini diikuti oleh jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Kapolres Jayapura, Kepala BP3OKP, Ketua Klasis GKI Sentani, para kepala kampung, serta Ondoafi, Ondofolo, dan masyarakat setempat.
Kegiatan ini merupakan bagian dari gerakan pelestarian sagu yang digagas bersama oleh Pemerintah Kabupaten Jayapura dan Gereja GKI.
Berkomitmen untuk melindungi kawasan sagu di Kabupaten Jayapura. Bupati Yunus Wonda mengaku sejak awal dilantik, upaya pelestarian sagu telah menjadi prioritas utamanya.
“Saya bersyukur karena gereja mengambil peran. Gereja GKI mengambil peran untuk penanaman sagu di Kabupaten Jayapura, khususnya di Sentani. Saya harap ini terus bergulir sampai ke seluruh wilayah Kabupaten Jayapura. Di mana kalau tanah itu cocok untuk sagu, mari kita tanam sagu,” ujarnya.
Bupati secara tegas melarang masyarakat menjual lahan sagu untuk dijadikan perumahan.
Ia mengancam tidak akan mengeluarkan izin apapun bagi pengembangan perumahan di kawasan sagu.
“Itu tidak boleh. Saya tidak akan pernah izinkan. Apalagi YMBO, saya tidak akan pernah. Selama kepemimpinan saya dan Wakil Bupati, kami tidak akan pernah izinkan perumahan-perumahan masuk, apalagi di area-area tempat kita tanam sagu,” tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa pengalaman sebelumnya telah membuktikan banyak kawasan sagu yang kini hilang beralih fungsi menjadi pemukiman. Bupati meminta hal itu tidak lagi terjadi di Kabupaten Jayapura.
“Mulai dari sini sampai Kehiran, Haim, sampai Pomba, tidak boleh lagi ada perumahan-perumahan masuk. Ini daerah sagu semuanya. Saya ingatkan kepada semua masyarakat, jangan pernah jual tanah itu. Karena pasti saya tidak akan pernah izinkan,” katanya dengan nada tegas.
Bupati bahkan menyamakan kebijakan ini dengan pelarangan masuknya gerai alfamart dan alfamidi di wilayahnya demi melindungi kios-kios tradisional.
“Sama seperti kita bicara alfamart, alfamidi. Hari ini semua tidak kita izinkan karena kios-kios tidak boleh mati. Kalau kita izinkan semua ini, sudah tidak ada kehidupan sagu lagi di Kabupaten Jayapura. Masa kita harus minta cari sagu di Timika, atau minta di Fakfak, di Kaimana? Kita yang punya sagu paling besar di sini,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Bupati Yunus Wonda menyampaikan pandangannya tentang keunggulan sagu sebagai pangan strategis. Menurutnya, di tengah ketergantungan pada bahan bakar minyak untuk mengolah berbagai jenis makanan modern, sagu menjadi satu-satunya pangan yang tetap dapat diolah tanpa memerlukan listrik atau solar.
“Sagu ini pangan dunia. Semua makanan yang kita lihat, apapun itu, dia butuhkan bahan bakar, butuh solar. Ketika lampu mati, yang bisa bertahan hanya sagu saja. Masyarakat tinggal tokok kembali ke yang semula, sagu jadi. Sagu akan jadi,” jelasnya.
Bupati Yunus memberikan apresiasi tinggi kepada Gereja GKI yang telah mengambil peran dalam pelestarian sagu. Ia berharap gereja-gereja lain di Kabupaten Jayapura juga ikut ambil bagian dalam menjaga lingkungan dan melindungi masyarakat.
“Bukan lagi bicara gereja bangun apa itu, itu sudah pasti. Tapi kita bicara bagaimana lingkungan harus kita jaga, perlindungan terhadap masyarakat, tanah harus kita jaga. Semua gereja, saya harap kepeduliannya mari kita sama-sama untuk melindungi, memproteksi orang Papua, tapi melindungi alam juga harus dilindungi,” pesannya.
Ia juga mengajak masyarakat untuk secara mandiri menanam sagu tanpa harus menunggu program pemerintah.
“Saya minta kepada semua masyarakat, siap-siap ke kebun. Pegang satu batang di tangan, satu bibit, bawa tanam. Tidak terasa kalau satu hari, satu bulan berapa, satu tahun berapa. Ini bukan masalah program pemerintah. Ini persoalan kesadaran kita semua untuk melestarikan tanah,” katanya.
Di luar agenda penanaman sagu, Bupati Yunus juga menyampaikan rencana pembinaan bagi generasi muda yang terjerat masalah sosial. Ia menyebut pihaknya tengah berkoordinasi dengan Polres Jayapura dan Resimen Induk Daerah Militer (Rindam) untuk mempersiapkan tempat pembinaan bagi anak-anak yang mabuk dan tidur di jalanan.
“Itu semua anak-anak kita yang mabuk di jalan, yang tidur di jalan, biar besok pagi dia bangun, dia sadar kalau sudah ada di Rindam. Sekali lagi kepada masyarakat di Kabupaten Jayapura, bapak, mama, kalau nanti anak-anak kalian diambil, tolong jangan kejar ribut, tidak usah, kasih tinggal. Ini untuk penyelamatan anak-anak kita,” pintanya.
Ia juga menyerukan penghentian konsumsi minuman keras oplosan (boplas) yang dinilainya sangat berbahaya. Menurutnya, kadar campuran dalam minuman oplosan bisa mencapai 70 hingga 90 persen.
“Saya minta berhenti. Kalau memang ingin minum, beli bir 10 karton, saya dulu minum sampai, daripada kopi minum barang itu. Ingat, barang itu banyak mencelakakan kita. Generasi kita hancur gara-gara tabrak, banyak kejahatan muncul dari minuman keras,” tegasnya.
Bupati mengakui bahwa menghentikan peredaran minuman keras legal bukanlah satu-satunya solusi, karena justru akan memicu maraknya minuman keras lokal yang lebih berbahaya dan sulit dikendalikan.
“Visi saya dan Wakil Bupati jelas, menghentikan minuman keras, tapi polanya harus kita cari. Hari ini kalau kita hentikan yang resmi dari pabrik, lokal akan hidup luar biasa. Lokal kami tidak bisa atasi. Dan itu bisa dibuat di sudut-sudut rumah, di bawah pohon, di mana-mana saja,” ujarnya.
Bupati Yunus Wonda menegaskan bahwa pelestarian sagu adalah amanat untuk generasi mendatang. Ia mengingatkan bahwa sagu adalah anugerah Tuhan yang harus dijaga.
“Sagu ini adalah makanan untuk anak cucu kita ke depan. Tuhan kasih sagu ini, mulai dari Ambon ke sini, Tuhan kasih kami dengan sagu. Ini harus kita jaga, kita lestarikan, kita terus tanam,” pungkasnya.
(Yan Mofu)











