Berita Papua, Sentani — Siluet perahu tradisional di atas Danau Sentani saat matahari terbenam merekam kisah sederhana seorang bocah asal Kampung Yobeh.
Dari foto tampak seorang pendayung duduk di ujung perahu kayu panjang sambil mengangkat dayung. Sosoknya gelap karena membelakangi cahaya senja, membentuk siluet yang kuat.
Bocah tersebut bernama Joka Yom, Anak Dari Kampung Yobeh, Distrik Sentani. Ia mengaku sering bermain perahu di atas permukaan Danau Sentani sambil menikmati senja dan memandang Gunung Cycloop.
“Saya sering main perahu di atas danau. Lihat senja sambil pandang Gunung Cycloop,” ujar Joka Yom saat ditemui di pinggiran Tanjung Yobeh, Sentani.
Langit sore saat itu berwarna jingga, merah, dan ungu dengan semburat emas di cakrawala. Cahaya senja memantul di permukaan air yang tenang, menciptakan gradasi warna hangat pada danau. Dari kejauhan, deretan bukit dan pegunungan tampak sebagai siluet gelap, khas topografi Danau Sentani.
Potret tersebut memancarkan nuansa ketenangan dan kehidupan sehari-hari masyarakat Sentani. Aktivitas melintasi danau saat senja menggambarkan hidup yang sederhana dan selaras dengan alam.
Perahu tradisional tanpa semang, atau biasa disebut koli-koli, lekat dengan masyarakat Sentani. Perahu ini menjadi simbol identitas dan keterikatan warga dengan danau yang menghidupi mereka.
Kontras antara siluet gelap perahu dan langit senja yang dramatis memberi kesan damai, syahdu, sekaligus megah. Pemandangan ini menegaskan potensi Danau Sentani di waktu senja sebagai daya tarik wisata dan budaya.
Secara filosofis, senja sering dimaknai sebagai akhir perjalanan hari sekaligus jeda untuk merenung. Perahu yang melaju pelan di air tenang dapat dibaca sebagai simbol perjalanan hidup yang terus berjalan di tengah keindahan ciptaan Tuhan.
(Yan Mofu)











