Berita Papua, Sentani — Dewan Adat Suku Sentani Phuyakha akan menggelar konferensi besar pada 24 September 2026. Konferensi ini jadi momentum evaluasi 26 tahun perjalanan DASS sejak berdiri tahun 2000.
Rapat perdana panitia digelar Jumat (21/8/2026) di Obhe Helebhey Wabhou, Kampung Sereh, Distrik Sentani. Hadir para Ondofolo, Khoselo, Abhu Afaa, tokoh adat, dan seluruh koordinator seksi panitia.
Ketua Panitia, Melki Suebu, mengatakan kepanitiaan 6 orang ini dibentuk berdasarkan mandat Ondofolo pada pertemuan 24 Juli 2026 di Kampung Hobong.
“Seluruh Ondofolo mempercayakan enam orang anak-anak Suku Sentani untuk mempersiapkan terlaksananya Konferensi DASS Phuyakha,” kata Melki.
Menurut Melki, konferensi ini penting karena selama 26 tahun DASS berdiri, belum ada perubahan signifikan yang dirasakan masyarakat adat Suku Sentani.
“Sejak DASS berdiri di awal tahun 2000 sampai 2026, kami sendiri merasakan seperti tidak terjadi perubahan yang signifikan,” bebernya.
Karena itu konferensi akan fokus pada 3 hal: pembenahan internal DASS, penyusunan arah perjuangan baru, dan pelurusan adat-budaya Sentani yang dinilai mengalami pergeseran.
“Harapannya melalui kepemimpinan dan kepengurusan DASS yang baru ke depan, kita dapat mempersiapkan masa depan Sentani di atas tanah dan airnya sampai kepada anak cucu,” tegasnya.
Sekretaris Panitia, Kristian Epa, menjelaskan konferensi mengusung tema _Raibhu, Raiwani dan Raiwali_ yang artinya “Kami Punya Tanah, Kami Punya Air dan Kami Punya Kehidupan”.
“Tema ini menggambarkan hubungan masyarakat adat Suku Sentani dengan tanah, air dan kehidupan yang tidak terpisahkan dari keberadaan masyarakat adat,” ujar Kristian.
Ia merinci struktur panitia: dirinya sebagai Sekretaris, Bendahara Barnabas Nukuboy, Koordinator Dana Ramses Wally, Koordinator Acara dr. Jhon Manangsang Wally, dan Koordinator Transportasi/Akomodasi Esau Kaway.
Melki menegaskan, selain urusan kepemimpinan, konferensi juga akan memperjuangkan hak-hak masyarakat adat Suku Sentani. Tidak hanya soal tanah, tapi juga keberlangsungan adat dan budaya.
“Kami berharap dapat memperbaiki dan meluruskan kembali sesuai dengan adat dan budaya yang dimiliki leluhur kami secara turun-temurun,” pungkasnya.
Konferensi DASS Phuyakha 24 September 2026 diharapkan menjadi titik konsolidasi masyarakat adat Sentani dalam menentukan arah perjuangan ke depan.
(Yan Mofu)











