Kabupaten Jayapura

Masa Bakti PAW DAS Sentani Dinilai Langgar AD/ART, DAP dan DAT Legitimasi Konferensi Besok di Helebhey Obhe Sereh

0
×

Masa Bakti PAW DAS Sentani Dinilai Langgar AD/ART, DAP dan DAT Legitimasi Konferensi Besok di Helebhey Obhe Sereh

Sebarkan artikel ini
Tampak Mantan Sekum DASS yang juga merupakan ketua LMA Kabupaten Jayapura, Maurits Felle Dan Ketua DAP Representasi Tabi, Yakonias Wabrar dan Yo Ondofolo Ramses Wally sebut masa Bhakti DASS sudah Berakhir dan Besok diadakan Konferensi DASS ke IV.

Berita Papua, Sentani — Kisruh kepemimpinan Dewan Adat Suku Sentani (DASS) memasuki babak baru. Kepengurusan Dewan Adat Sentani (DAS) periode 2018-2023 dinilai telah melanggar konstitusi organisasi karena masa bakti Pengganti Antar Waktu (PAW) telah berakhir sejak November 2023 namun belum juga menggelar konferensi.

Hal tersebut mengemuka dalam konferensi pers di cafe Apollo sentani, Rabu (23/9/2026).

Mantan Sekretaris Umum Dewan Adat Suku Sentani yang juga Ketua LMA Kabupaten Jayapura, Maurits Felle, menjelaskan kronologinya.

Almarhum Demas Tokoro terpilih untuk kedua kalinya sebagai Ketua DAS Sentani pada November 2018 untuk masa bakti 5 tahun hingga November 2023. Namun Demas hanya menjalankan tugas sekitar 2 tahun sebelum meninggal dunia, sehingga organisasi vakum hampir satu tahun.

Untuk mengisi kekosongan, pada 2021 digelar musyawarah di Bambar. Hasilnya, Wakil Ketua I Orgenes Kaway diangkat sebagai Ketua PAW untuk melanjutkan sisa masa jabatan hingga November 2023. Saat itu Wakil Ketua II dijabat Yaakob Fiobetauw dan Wakil Ketua III Septinus Ibo.

“Kami tegaskan Orgenes Kaway itu statusnya sebagai ketua Pengganti Antar Waktu, bukan definitif. Yang definitif itu yang terpilih dalam konferensi resmi, yaitu almarhum Pak Demas Tokoro,” ujar Maurits.

Namun hingga September 2026, konferensi tak kunjung digelar. Masa bakti PAW yang berakhir November 2023 telah lewat hampir 3 tahun.

“Jadi itu sudah menyalahi konstitusi kami, yaitu AD/ART. Di dalam AD/ART DAS tidak pernah disebut Mubes. Yang ada hanya konferensi setiap 5 tahun, kemudian pleno dan rapat kerja,” tegasnya.

Ia menambahkan, panitia konferensi besok tetap menggunakan AD/ART lama dan telah berkoordinasi dengan Kementerian Hukum dan HAM serta Kesbangpol untuk pengesahan dan pendaftaran organisasi, mengingat DAS selama ini belum terdaftar resmi.

Ketua Dewan Adat Papua (DAP) Representasi Tabi yang juga Ketua Dewan Adat Tabi, Yakonias Wabrar, menegaskan konferensi besok seharusnya sudah dilakukan sejak lama.

“Ini sudah harus dilakukan dari jauh-jauh hari, bukan hari ini atau besok. Waktunya sudah lewat. Para Ondo seperti anak ayam kehilangan induk karena vakum,” katanya.

Sebagai pemegang hirarki, DAP dan DAT Tabi memberikan legalitas penuh terhadap konferensi yang diinisiasi Ramses Wally bersama para Ondo di Helebhey Obhe Sereh.

“Yang dilakukan oleh Ramses Wally bersama teman-teman, karena SK kami ada di sana, kami melegalkan itu. Yang di sebelah kami anggap tidak sah bagi kami, karena saya masih punya SK resmi dari Dewan Adat Papua. Saya terpilih sah di Kaimana,” tegas Yakonias.

Ia mengimbau seluruh Ondo untuk hadir di Obhe, bukan di tempat lain, karena ia akan hadir bersama Gubernur Papua dan Bupati Jayapura.

“Kalau dua pucuk pimpinan pemerintahan ini hadir, itu yang punya legitimasi. Bukan berarti masyarakat adat mengakui pemerintah, tetapi negara yang mengakui keberadaan masyarakat adat Sentani sesuai Pasal 18 UUD,” jelasnya.

Sementara itu, Yo Ondofolo Kampung Babrongko, Ramses Wally, mengurai sejarah DAS.

Kongres pertama dipimpin Ondo Suebu dan dilanjutkan antar waktu oleh Boas Enok. Konferensi kedua di Homfolo memilih Demas Tokoro. Setelah Demas meninggal, dilanjutkan PAW Orgenes Kaway.

“Orgenes bukan Ketua DAS definitif, dia PAW. Sampai masa jabatan Demas berakhir, dia tidak adakan konferensi, malah tambah jabatan sampai 2026. Jadi sudah 8 tahun memimpin tanpa dasar hukum yang jelas sesuai AD/ART,” ungkap Ramses.

Karena itu, pada 24 Juli lalu para Ondo dari wilayah Ralibhu, Nolobhu hingga Waibu menggelar Musyawarah Besar di Kampung Hobong dan membentuk panitia konferensi yang dipilih langsung di atas panggung oleh para Ondo-Ondo sebagai Majelis Tertinggi Adat.

Panitia yang dipercayakan 6 orang:

• Ketua: Melki Suebu

• Sekretaris: Kristian Epa

• Bendahara: Bernabas Nukuboy

• Koordinator Usaha Dana: Ramses Wally

• Seksi Acara: dr. John Manangsang

• Koordinator Perlengkapan: Esau Kaway

Untuk konferensi besok, mekanisme akan berbeda. Para Ondo sebagai pemegang hak veto tidak akan memilih Ketua, melainkan Sekretaris Jenderal (Sekjen).

“Selama 24 tahun, setiap Ondo yang jadi Ketua DAS Sentani meninggal. Karena paradigma ketua merasa lebih berkuasa untuk mengatur Ondo lain. Padahal semua Ondo dari Ralibhu, Nolobhu, Waibu itu berdiri sama tinggi, duduk sama rendah. Di atas Ondo hanya ada Tuhan. Makanya kami pilih Sekjen, supaya dia menjadi hamba yang melayani Ondo-Ondo,” pungkas Ramses.

Konferensi DAS Sentani dijadwalkan digelar Rabu besok di Helebhey Obhe Sereh dengan agenda utama pemilihan Sekjen dan pengesahan AD/ART.

(Yan Mofu)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *