Berita

Malaikat Tabuni: Soroti Film Pesta Babi, Dukung Program Cetak Sawah di Wamena, Serukan Akhiri Perang Suku Demi Stabilitas Ekonomi

0
×

Malaikat Tabuni: Soroti Film Pesta Babi, Dukung Program Cetak Sawah di Wamena, Serukan Akhiri Perang Suku Demi Stabilitas Ekonomi

Sebarkan artikel ini
Malaikat Alpius Tabuni, Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Papua Pegunungan sekaligus Ketua Asosiasi Kepala Suku Papua Pegunungan di 5 wilayah adat Lapago, Meepago, Tabi, Saireri, dan Animha.

Berita Papua, Jayapura — Malaikat Alpius Tabuni, Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Papua Pegunungan sekaligus Ketua Asosiasi Kepala Suku se-Papua Pegunungan untuk 5 wilayah adat di Lapago, Meepago, Tabi, Saireri, dan Animha, menyampaikan sejumlah pernyataan penting terkait pembangunan pertanian, stabilitas keamanan, serta dukungannya terhadap pemerintah pusat dan daerah.

Pernyataan itu disampaikan Malaikat Alpius Tabuni di kediamannya di Kota Jayapura, Rabu (3/6/2026).

Namun Malaikat juga menanggapi viralnya film Pesta Babi di berbagai platform media sosial, termasuk TikTok, serta di berbagai tempat di seluruh Indonesia.

“Tetapi kita ingat, Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Pasal 33: tanah, hutan, air, apapun yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara untuk kemakmuran rakyat,” ujar Alpius.

Tokoh adat itu menegaskan bahwa program Pemerintah Pusat dalam pembangunan sawah, pertanian, perkebunan, dan kelapa sawit bertujuan memakmurkan rakyat Indonesia, terutama masyarakat pemilik hak ulayat.

“Di negara ini tidak ada makan siang gratis. Kalau kita-kita yang meronta begini kiri-kanan, tidak mungkin negara turun tanpa kebijakan membayar hak ulayat,” tegasnya.

Ia meminta pemerintah daerah untuk segera merealisasikan pencetakan sawah di Wamena.

“Saya minta segera Dinas Pertanian, dinas teknis lakukan cetak sawah di Wamena. Bahkan yang tidak bisa tanam, bisa dibuat perikanan. Persawahan itu harus dilakukan sesuai amanat pemerintah pusat,” katanya.

Alpius mengingatkan, masyarakat adat atau pemilik hak ulayat tidak boleh dikesampingkan.

“Pasti ada ganti rugi yang akan dibayarkan. Dan saya sarankan untuk membangun ekonomi kearifan lokal rakyat pribumi Papua,” tambahnya.

Salah satu poin penting yang disorot Alpius adalah konflik antar-suku yang masih kerap terjadi di Papua Pegunungan.

“Di Papua Pegunungan, kami sedang perang-perangan terus. Perang adat, perang suku, akhirnya mengganggu stabilitas pemerintahan. Akan terganggu. Oleh karena itu, percetakan sawah itu harus dilakukan,” ujarnya.

Menurutnya, keberadaan lahan pertanian yang produktif dapat menjadi perekat sosial sekaligus mengurangi ketegangan antarkelompok adat.

Alpius menyampaikan terima kasih kepada pemerintah dan rakyat atas lumbung padi yang tengah berjalan di Merauke. Ia juga mencontohkan keberhasilan pembangunan di kawasan Koya Barat dan Koya Timur, yang dulunya merupakan hutan belukar.

“Sekarang menjadi sumber pendapatan, sumber ekonomi di Provinsi Papua,” katanya.

Ia juga menyebut tokoh GFC (inisial) yang dinilainya berhasil menanam cabai hingga berton-ton dan menjualnya ke berbagai provinsi.

“Itu contoh, kita ikuti contoh yang diberikan. Sekarang ini saya lihat para petani, banyak orang Papua yang sudah bekerja sama dengan teman-teman Nusantara, bersatu membangun ekonomi pribadi keluarga,” ucapnya.

Malaikat Tabuni secara tegas menyatakan dukungan terhadap Presiden RI Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

“Kita sebagai tokoh mengarahkan rakyat mendukung program Bapak Presiden Republik Indonesia, Bapak Prabowo dan Gibran, untuk membangun ekonomi keluarga di atas tanah leluhur,” katanya.

Ia mengajak masyarakat tidak diam dan menunggu waktu, melainkan melakukan tindakan nyata membangun ekonomi kearifan lokal menuju kemandirian.

“Umat Tuhan harus pegang uang. Masyarakat harus pegang uang setiap hari. Kita tidak boleh diam,” pungkasnya.

(Renaldo Tulak)