BeritaPapua.co, Jayapura — Komisi V DPR Papua menilai Kongres Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI Papua untuk memilih Ketua Umum terkesan ditutup-tutupi.
Hal itu diungkapkan Piter Kwano, anggota komis V DPRP saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama KONI Provinsi Papua di Hotel Suni Abepura, Jayapura, Rabu (25/5).
Sebab menurut Kwano, pihaknya tidak pernah mendengar terkait pendaftaran bakal calon ketua Asprov PSSI yang akan maju karena dirinya berkeinginan untuk maju sebagai kandidat.
“Selama kita mengikuti berita tidak pernah dengar dorang buka pendaftaran secara terbuka karena saya juga ingin maju. Pendaftaran ini secara tertutup terus kemudian kita tanya kemudian mereka bilang sudah close. Pengumumannya tidak ada kok sudah close,” ujarnya dengan nada heran.
Piter menilai bahwa organisasi sepakbola provinsi itu sudah tercemar oleh politik sehingga berdampak pada jatuhnya tim Persipura Jayapura ke divisi 2 liga Indonesia.
“Jangan bawa-bawa politik didalam olahraga, karena hal ini kami berduka. Persipura jungkir balik ke divisi 2 kami betul-betul berduka, jadi jangan ini terjadi membias kemana-mana,” bebernya.
“Kalau Asprov sudah memakai politik didalam ini berarti sudah tidak sehat, ini tidak boleh sehingga sebagai Komisi yang membidangi hal ini minta bantuan KONI untuk melihat ini lebih baik,” sambung Piter.
Sementara itu, Sekertaris Umum KONI Papua, Kenius Kogoya juga mengutarakan hal yang sama.
“Untuk Asprov ini agak dirahasiakan, mereka sembunyi-sembunyi prosesnya padahal kita tahu bahwa Asprov ini sangat bergensi,” ujarnya.
Sekum KONI itu mengatakan lewat Asprov banyak lahir pemain-pemain hebat di tim Persipura.
Dia juga menyayangkan pemain-pemain sepakbola PON Papua binaan KONI Provinsi Papua yang tidak direkrut oleh manajemen Persipura namun diambil oleh tim lain.
“Kita punya striker (Ricky Cawor) itu sudah masuk di Persija sekarang, anak itu punya masa depan yang luar biasa. Nah kalau kita buang percuma untuk membina mereka terus kemudian diambil sama orang lain kita yang rugi,” sesal Kogoya.
Kenius menilai bahwa Asprov harus menjadi perhatian khusus karena bola sudah menjadi suatu kebanggaan terbesar bagi orang Papua.
“Asprov ini perlu menjadi perhatian khusus karena bola kaki sudah menjadi prestisius sudah menjadi kebanggaan kita orang Papua tapi kalau manajemennya diatur seperti kayak begitu kami juga lihatnya kurang bagus,” tandasnya.
(RT)











