Berita Papua, Jayapura — Harapan Persipura Jayapura untuk meraih tiket ke liga 1 di kandang sendiri gagal setelah dikandaskan tamunya Adhyaksa FC dengan skor tipis 1-0 pada laga yang berlangsung di Stadion Lukas Enembe, Jayapura pada Jumat (8/5/2026).
Kekalahan ini menyisakan kekecewaan, namun mantan pelatih kepala Perserang Banten 2024-2025 sekaligus mantan asisten pelatih Persipura U16 Melkianus Arnest Papare, justru memandangnya sebagai pelajaran berharga.
Pria kelahiran Serui yang akrab disapa Melki Arnest Papare itu memberikan analisisnya secara khusus, menyusul hasil minor tim kebanggaan masyarakat Papua.
Meski mengakui adanya kontroversi keputusan wasit yang dinilai merugikan tuan rumah, Melki menekankan pentingnya untuk tetap mengapresiasi terhadap permainan lawan.
“Pertama-tama saya mengucapkan terima kasih kepada Tuhan atas hasil ini. Dan terima kasih juga kepada semua orang Papua atas cintanya terhadap Persipura, secara khusus manajemen dan para pemain,” ujar Papare, yang juga pernah menukangi Papua Football Akademi.
Secara taktis, pelatih berlisensi A Diploma PSSI itu mengungkapkan bahwa Adhyaksa FC bermain sangat disiplin dengan formasi deep defending 5-3-2 atau 5-3-1-1. Strategi itu memaksa Persipura bermain melebar melalui wing play dan mengandalkan umpan silang (crossing) ke kotak penalti.
“Persipura dipaksa bermain melebar, meninggalkan banyak ruang kosong di belakang lini. Itu dimanfaatkan Adhyaksa dengan direct counter dan terbukti berhasil,” beber Papare.
Sayangnya, trio penyerang Persipura, Reno Salampessy, Kelly Sroyer dan Ramai Rumakik yang menjadi target umpan silang dinilai bukanlah target man tipikal. Akibatnya, setiap percobaan crossing selalu gagal di area kotak terlarang.
“Secara umum kita harus respect terhadap tim lawan yang begitu luar biasa. Kita harus mengakui bahwa secara taktikal mereka cukup baik. Mereka selalu menang jumlah di dalam area kotak penalti dan sistem menyerang efektif,” tambahnya.
Meski kekalahan menyakitkan, Melki yang pernah menjabat sebagai pelatih kepala Perserang Banten musim 2024-2025 memilih untuk tetap optimis.
Dengan latar belakang sebagai mantan asisten pelatih Persipura U16 pada 2016 lalu , berasal dari klub Cigombong Putra serta SSB Batik, ia memahami betul dinamika dan atmosfer tim Mutiara Hitam.
“Hari ini memang bukan hasil yang kita harapkan, tetapi setiap pertandingan adalah pelajaran berharga. Kekalahan bukan akhir, melainkan awal dari kebangkitan,” tegasnya.
Meki menyoroti semangat juang, kerja keras, dan dukungan luar biasa dari tim serta suporter sebagai modal besar.
“Persipura akan terus berbenah, baik dari sistem teknis maupun nonteknis. Belajar dari setiap momen, dan kembali lebih kuat di musim berikutnya. Bersama-sama kita bangkit,” pungkas pelatih muda asal Papua tersebut.
Dengan hasil ini, Persipura harus segera berbenah untuk menghadapi laga-laga berikutnya, sementara Adhyaksa FC pulang dengan membawa 3 poin berharga dan siap berlaga di liga 1 Indonesia.
(Renaldo Tulak)











