Berita Papua, Wamena — Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Papua bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Papua Pegunungan dan Kabupaten Jayawijaya menggelar High Level Meeting (HLM) dan Capacity Building di Grand Baliem Hotel, Wamena, Selasa (1/9/2026).
Kegiatan ini merupakan langkah konkret mengendalikan inflasi daerah menyusul dinamika harga yang sempat meroket tajam pada Juni 2026.
Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) per Agustus 2026, inflasi tahunan (year-on-year) Papua Pegunungan tercatat membaik ke level 3,77%.
Namun angka ini dinilai masih rawan dan wajib dikawal ketat agar masuk dalam sasaran inflasi nasional 2,5±1% (year-on-year).
Kepala Perwakilan BI Provinsi Papua Warsono menegaskan keseimbangan antara sisi pasokan dan permintaan harus terus dijaga secara presisi.
“Kami dari Bank Indonesia terus menjaga kecukupan uang Rupiah dengan memperhitungkan kebutuhan masyarakat sehingga dapat diserap secara optimal untuk menunjang pergerakan perekonomian,” ujarnya.
Kegiatan yang turut dihadiri Bupati Jayawijaya Atenius Murip dan Asisten Sekda Provinsi Papua Pegunungan Lukas Waika ini menghadirkan sejumlah narasumber.
BPS Kabupaten Jayawijaya memaparkan data inflasi terkini, Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Provinsi Papua menyampaikan perkembangan realisasi APBD dan potensi pembiayaan pengendalian inflasi, BMKG Stasiun Meteorologi Kelas II Wamena mengulas perkembangan cuaca serta mitigasi El Nino, dan Petani Muda Panus Hilapok memberikan edukasi tentang pentingnya pertanian bagi generasi muda.
Atenius Murip dan Lukas Waika sepakat bahwa penguatan sinergi TPID dengan berbagai instansi terkait sangat dibutuhkan untuk menjaga kecukupan pasokan lokal dan menstabilkan permintaan masyarakat melalui kemandirian pangan lokal, agar tidak bergantung pada komoditas dari luar Jayawijaya.
Ke depan, sinergi antara Bank Indonesia, pemerintah daerah, dan mitra kerja diharapkan semakin diperkuat guna menjaga stabilitas inflasi daerah, sehingga Papua Pegunungan dapat mencapai inflasi yang rendah dan stabil serta tercipta kemandirian dan ketahanan pangan lokal yang mumpuni.
(Renaldo Tulak)











