Papua

Lembaga Pendidikan Aviasi Pertama di Papua Resmi Dibuka, Siap Cetak Pilot Putra Daerah dengan Kurikulum Filipina-Jepang

0
×

Lembaga Pendidikan Aviasi Pertama di Papua Resmi Dibuka, Siap Cetak Pilot Putra Daerah dengan Kurikulum Filipina-Jepang

Sebarkan artikel ini
Tampak Ketua Prodi Penerbangan, David Paul Kabes bersama mahasiswa yang mengikuti ospek perdana Semi Militer di Lembaga Pendidikan Aviasi.

Berita Papua, Sentani — Lembaga Pendidikan Aviasi (LPA) Academy Penerbangan dan Pariwisata Pulau Kisar Yotowawa Internasional School Training Center Papua resmi dibuka di Kabupaten Jayapura.

Lembaga ini menjadi sekolah aviasi pertama di Tanah Papua yang fokus menyiapkan putra-putri Papua menjadi pilot dan teknisi penerbangan.

Berbeda dengan politeknik penerbangan pada umumnya, LPA mengadopsi kurikulum dari Filipina dan Jepang. Metode pembelajaran disebut setara dengan standar luar negeri.

Ketua Program Studi Penerbangan LPA, Paul David Kabes, S.T., mengungkapkan bahwa angkatan pertama lembaga ini diikuti oleh sekitar 20 peserta.

“Jumlah peserta kurang lebih 20 orang. Ada beberapa yang akan bergabung lagi karena baru konfirmasi,” ujar Paul kepada wartawan di Sentani, Rabu (6/5/2026).

Menurut Paul, LPA sengaja dibentuk untuk menjawab kebutuhan sumber daya manusia (SDM) penerbangan di Papua. Selama ini, calon pilot asal Papua harus menempuh pendidikan ke Jawa atau daerah lain.

“Kita berusaha membangun Papua dengan merekrut anak-anak kita dari Papua. Tidak perlu jauh-jauh ke sana, mereka bisa mendaftar dan dapat ilmu aviasi di Papua,” tegasnya.

Dari 20 peserta angkatan pertama, mayoritas berasal dari wilayah pegunungan. “Hampir semua dari daerah gunung, ada dari Wamena, Tolikara, dan sebagian Pegunungan Bintang,” sebut Paul.

Untuk sementara, kegiatan belajar mengajar digelar di SMK Negeri 5 Penerbangan Waibu. Ke depan, LPA berencana membangun gedung dan training center sendiri di Kabupaten Jayapura untuk melayani wilayah Indonesia Timur.

Paul menjelaskan bahwa kerja sama dengan Filipina dan Jepang membuat kurikulum yang dipakai bukan dari Indonesia.

“Metode pembelajaran sama seperti di luar. Paling banyak di dalam ruangan karena fasilitas belum lengkap. Kita berharap ada dukungan pemerintah untuk pengadaan flight simulator,” katanya.

Tenaga pengajar saat ini berasal dari guru SMK Penerbangan Waibu, ditambah beberapa pilot dan teknisi. Sistem pendidikan dirancang secara semi-militer untuk membentuk etika dan moral siswa.

“Kriterianya mereka bisa ikuti aturan yang ada,” ujarnya.

Paul juga menyampaikan perbedaan LPA dengan lembaga aviasi lain.

“Kalau di BSG itu bisa dibilang old tech. Lembaga aviasi ini berbeda,” katanya.

Masa pendidikan dasar di Papua berlangsung selama 9 bulan. Materi yang diajarkan meliputi dasar-dasar penerbangan, prosedur di kokpit, penanganan darurat, dan penguatan bahasa Inggris.

“Setelah dari sini mereka langsung ke Jakarta untuk training lagi, lalu ke Filipina dan Jepang,” jelas Paul.

Soal biaya, pendidikan dipatok sebesar Rp75 juta per orang per semester. Biaya tersebut mencakup seragam, ospek, dan uang pembangunan. Paul menyebut akan ada beasiswa penuh dari Filipina dan Jepang.

“Untuk sementara sambil tunggu beasiswa masuk, mereka bayar mandiri. Setelah beberapa pekan, uangnya dikembalikan,” ungkapnya.

Ia berharap ada dukungan pemerintah daerah untuk pengadaan simulator dan bantuan biaya.

“Kita mau lihat bagaimana pemerintah Papua melihat anak-anak mereka yang punya niat sekolah pilot. Apakah bisa disupport atau disponsori daerah masing-masing,” pungkas Paul.

Saat ini LPA membuka dua program studi: pilot dan teknisi. Ke depan akan dibuka jurusan lain seperti pramugari/pramugara setelah tenaga pengajar dari luar tersedia.

(Yan Mofu)