Berita Papua, Jayapura — Analisis Papua Strategis (APS), komunitas profesional global putra-putri Papua, akan menggelar Konferensi III pada 27-29 Mei 2026 di Gedung Papua Youth Creative Hub (PYCH) Kota Jayapura.
Konferensi ini mengusung tema inovasi pembangunan Papua berbasis etnosains sebagai percepatan pembangunan sesuai semangat Otonomi Khusus (Otsus) menuju Papua Emas 2041 dan Indonesia Emas 2045.
Dalam visi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, APS berkomitmen melahirkan Inovasi Pembangunan Etnosains Papua untuk mendukung implementasi kebijakan pembangunan dengan partisipasi tinggi dari masyarakat Papua secara mandiri. APS berperan sebagai jembatan peradaban pembangunan di Tanah Papua.

Ketua Umum APS, Laus Deo Calvin Rumayom, menjelaskan bahwa pendekatan pembangunan selama ini masih menghadapi tantangan struktural setelah 2 dekade Otonomi Khusus Papua.
“Kompleksitas tantangan pembangunan di Tanah Papua tidak dapat diselesaikan hanya dengan pendekatan konvensional yang bersifat top-down dan seragam. Gap pembangunan antara wilayah pesisir dan pegunungan, akses terbatas terhadap layanan dasar, serta ketimpangan ekonomi masih tinggi,” ujar Laus dalam keterangan pers tertulis kepada Berita Papua, Senin (11/5/2026).
Menurut Laus, pendekatan etnosains menawarkan alternatif solusi yang menjembatani kearifan lokal dengan inovasi modern.
“Masyarakat adat Papua telah lama mengembangkan sistem pengetahuan lokal yang adaptif: pengelolaan sumber daya alam berbasis ekologi, sistem pertanian tradisional yang berkelanjutan, hingga tata kelola sosial yang menjunjung keadilan. Sistem pengetahuan ini tidak hanya relevan untuk konteks lokal, tetapi juga memiliki nilai universal dalam menjawab tantangan global,” tegas Laus yang juga merupakan Founder APS Center for Development and Global Studies.

Konferensi APS III akan membuka 10 forum tematik berbasis komunitas dan kolaborasi lintas sektor, meliputi: Forum Masyarakat Adat Papua, Forum Agama, Forum Perempuan Papua, Forum Transportasi Multimoda dan Konektivitas, Forum Kesehatan, Forum Pendidikan, Forum Pertanian dan Perkebunan, Forum Ketenagakerjaan, Forum Perikanan dan Kelautan, serta Forum Ekonomi dan Bisnis.
Ketua Panitia Konferensi APS III, Richard Patty, menyebut bahwa konferensi ini merupakan platform strategis untuk mendialogkan berbagai pemangku kepentingan.
“Kota Jayapura sebagai pusat pertumbuhan ekonomi di Indonesia Timur sekaligus ruang interaksi dan sentra ekonomi menjadi lokasi yang tepat. Konferensi ini adalah kelanjutan komitmen APS CDGS sebagai lembaga think tank yang telah cukup lama menghasilkan kajian berbasis bukti (evidence-based) yang menjadi rujukan pengambil kebijakan,” kata Richard yang juga menjabat Direktur APS CDGS.
Sekretaris Jenderal APS, Willem Thobias Fofid, menegaskan bahwa konferensi ini akan dibuka oleh Wakil Menteri Hak Asasi Manusia Republik Indonesia (HAM), Mugiyanto. Sementara itu, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang akrab disapa KDM akan bertindak sebagai keynote speaker.
Ps. Catto Mauri, Ketua APS Kota Jayapura yang juga Sekretaris Panitia, menambahkan sejumlah pejabat tinggi negara akan hadir sebagai narasumber. Mereka antara lain Wakil Menteri Dalam Negeri Ribka Haluk, Gubernur Papua Mathius Derek Fakhiri, dan Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Maruli Simanjuntak.
“Hadir juga jejaring komunitas global APS dari luar negeri seperti Jepang, Malaysia, dan Australia, serta negara-negara tetangga lainnya. Organisasi internasional seperti Sasakawa Peace Foundation, Food and Agriculture Organization (FAO-UN), Yamagata-Papua Friendship Association, hingga PT Freeport Indonesia akan berpartisipasi,” rinci Catto.

Selain itu, konferensi juga menghadirkan praktisi dari kementerian teknis (Ketenagakerjaan dan Perhubungan), akademisi dari Universitas Indonesia, Universitas Cenderawasih, Universitas Negeri Papua, Politeknik Pelayaran Sorong, serta para tokoh gereja, tokoh adat, tokoh perempuan, tokoh pemuda, Asosiasi Kepala Daerah se-Tanah Papua, Asosiasi MRP se-Tanah Papua, serta anggota DPR RI dan DPD RI.
Konferensi APS pertama diselenggarakan pada 2022 di Kabupaten Biak, dilanjutkan konferensi ke-2 pada 2023 di Kabupaten Jayapura. Kedua konferensi sebelumnya dinilai berjalan lancar dan berdampak pada penyusunan Program Strategis Nasional, RPJMN, bahkan Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) dengan melibatkan pemerintah pusat, pemerintah daerah, masyarakat adat, agama, perempuan, pemuda, serta entrepreneur.
APS didirikan sebagai komunitas profesional global dari berbagai latar belakang pendidikan dan profesi di seluruh dunia, sekaligus mitra pemerintah dalam implementasi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.
Visi APS adalah menjadi jembatan peradaban pembangunan di Tanah Papua menuju Indonesia Emas 2045, sesuai semangat Otonomi Khusus dan menyongsong Papua Emas 2041.
(Renaldo Tulak)











