Kabupaten Jayapura

Pemandangan di Tepi Danau Sentani Jadi Pengingat Pentingnya Jaga Tanah, Hutan Dan Dusun Sagu Hadapi Krisis Pangan

0
×

Pemandangan di Tepi Danau Sentani Jadi Pengingat Pentingnya Jaga Tanah, Hutan Dan Dusun Sagu Hadapi Krisis Pangan

Sebarkan artikel ini
Tampak pemandangan di tepi Danau Sentani, megingatkan pentingnya tanah, hutan dan dusun sagu tetap di jaga hadapi krisis pangan.

Berita Papua, Sentani — Pemandangan tepi Danau Sentani yang tropis menampilkan hamparan pohon sagu dan rumah panggung di atas air. 2 bangunan kayu sederhana berdiri di bibir danau. Bangunan besar di sisi kanan tampak seperti rumah tinggal dengan atap seng yang mulai berkarat, sementara bangunan kecil di sisi kiri menyerupai saung. Keduanya dibangun di atas tiang, khas rumah panggung masyarakat pesisir Danau Sentani.

Lingkungan sekitarnya dipenuhi pohon sagu dan vegetasi hijau lebat. Ekosistem ini menjadi ciri khas Danau Sentani dan pesisir Papua. Bagi masyarakat adat Sentani, sagu bukan sekadar tanaman, melainkan makanan pokok dan bagian penting dari kehidupan.

Permukaan air yang tenang dengan sedikit riak memantulkan pepohonan di belakangnya, menciptakan suasana alami yang damai. Gambaran ini memperlihatkan bagaimana masyarakat adat Papua hidup berdampingan dengan alam Danau Sentani.

Rumah panggung yang berdiri di tengah rimbunnya pohon sagu menjadi bukti kearifan lokal dalam memanfaatkan lingkungan sebagai tempat tinggal sekaligus sumber kehidupan.

“Ini sangat cocok digunakan sebagai cerita tentang budaya, lingkungan, dan kehidupan masyarakat adat di Sentani Papua,” ujar Ramses Wally, Yo Ondofolo Kampung Babrongko, Jumat 15/5/2026.

Ramses Wally mengingatkan pentingnya menjaga tanah adat dan dusun sagu sebagai langkah antisipasi menghadapi krisis pangan global.

Menurutnya, ketika krisis tiba, semua orang akan membutuhkan makanan. Masyarakat yang sudah menjual tanah adat akan menjadi kelompok paling rentan.

“Oleh sebab itu kita perlu mempersiapkan langkah-langkah ke depan, khususnya untuk masyarakat adat. Tanah yang memberikan kita hidup, jangan sampai terjual habis,” ujarnya.

Ia menegaskan, Papua bukan tanah kosong. Dari Sorong sampai Merauke, lebih dari 250 suku hidup di wilayah adatnya masing-masing. Di balik hutan dan pepohonan, ada manusia yang menggantungkan hidupnya pada tanah dan hutan itu.

Ramses menyoroti hilangnya hutan dan dusun sagu di Papua akibat alih fungsi lahan menjadi perumahan, gedung, dan bisnis. Ia menyebut kondisi ini membuat orang Papua kehilangan jati diri.

Ia mencontohkan Kota Raja, Pasar Lama, Padang Bulan, hingga Sentani yang dulunya hamparan sagu, kini berubah menjadi permukiman. Di Papua Selatan, masyarakat pemilik hak ulayat juga kehilangan 12 hektar hutan, sehingga kehilangan arah hidup.

“Tempat-tempat yang dulu ada hutan dan dusun sagu, dibabat habis semua. Pembangunan yang ada ini bukan mensejahterakan masyarakat, tapi membunuh masyarakat,” katanya.

Ramses menilai kondisi ini membuat masyarakat asli Papua perlahan kehilangan sumber kehidupan. Jika krisis pangan benar terjadi, jati diri orang Papua, khususnya di Tanah Papua, akan terancam punah.

(Yan Mofu)