Berita Papua, Sentani — Di tepi Danau Sentani yang ditumbuhi rimbun pohon sagu dan tanaman hijau, deretan Gunung Cycloop tampak gagah menjadi lanskap khas Sentani. Suasana siang yang cerah, Selasa 12/5/2026, Memunculkan kesan ceria, bebas, dan akrab dengan alam.
Dalam suasana itu, Tokoh Masyarakat Adat Sentani, Ramses Wali, menyoroti ancaman kepunahan sagu di Kabupaten Jayapura harus di jaga jangan karena akibat alih fungsi lahan sagu punah menjadi perumahan dan pengembangan kota.
“Sagu, khususnya di Kabupaten Jayapura, sudah menuju kepunahan. Dulu lokasi-lokasi sagu di setiap kampung kini dijadikan perumahan untuk pengembangan kota. Akhirnya sagu semakin hari semakin punah,” kata Ramses.
Keprihatinan ini sebenarnya sudah diantisipasi sejak lama. Pada masa kepemimpinan mantan Bupati Yan Pieter Karafir, pemerintah pernah menerbitkan peraturan daerah tentang perlindungan sagu. Namun, perda tersebut dinilai tidak dihargai seiring perkembangan zaman.
“Perkembangan dari tahun ke tahun membuat masyarakat tidak menghargai apa yang mantan Bupati Yan Pieter Karafir buat tentang Perda Perlindungan Sagu itu. Akhirnya, lokasi-lokasi sagu dijual kepada pengusaha untuk dibangun perumahan. Dan sagu di Kabupaten Jayapura mulai punah,” jelasnya.
Meski begitu, Ramses menyebut masih ada wilayah yang dusun sagunya tetap utuh hingga kini, yakni di tiga kampung: Yoboi, Simporo, dan Babrongko (Yosiba).
“Daerah tersebut sagunya masih utuh dan mereka tidak pernah jual lahan sagu untuk kepentingan developer pembangunan perumahan. Karena masyarakat di tiga kampung tersebut memahami dan mengerti betul, sehingga mereka menjaga dusun sagu secara baik,” ujarnya.
Di lahan tiga kampung tersebut, kata Ramses, masih terdapat 34 jenis sagu yang terpelihara. Bagi masyarakat setempat, sagu bukan sekadar tanaman pangan.
“Bagi masyarakat Yosiba, Sagu adalah kehidupan. Sagu adalah harga diri masyarakat adat Sentani. Sagu juga merupakan wibawa masyarakat adat yang ada di kampung-kampung,” tegasnya.
Ia menjelaskan, sagu memiliki peran penting dalam adat Sentani, terutama dalam prosesi perkawinan.
“Kalau ada sagu, kita bisa membawa sagu bersama babi dan pisang untuk diantar dalam acara perkawinan anak perempuan. Di situlah harga diri masyarakat adat Sentani dilihat. Kampung yang punya adat, punya dusun sagu, berarti kampung itu hidup,” kata Ramses.
Menurutnya, keberadaan dusun sagu menjadi ukuran hidup dan matinya sebuah kampung adat.
“Dengan adanya dusun sagu, maka orang bisa nilai bahwa kampung itu ada dan kampung itu hidup. Coba kita lihat kampung-kampung di sekitar Sentani, apakah mereka punya dusun sagu atau tidak. Kalau kampung tidak punya dusun sagu, sebenarnya kampung tersebut sedang menuju kepunahan pangan sagu,” ujarnya.
Ramses menutup dengan filosofi orang Sentani tentang sagu. “Sagu adalah kehidupan. Di mana ada sagu bertumbuh, di mana ada kampung yang punya dusun sagu, maka kampung itu akan hidup terus untuk masa kini, masa depan, dan masa akan datang. Orang Sentani bilang dusun sagu adalah (Rawali) artinya ada kehidupan di. masa kini dan masa depan,” pungkasnya.
(Yan Mofu)











