Berita Papua, Sentani –– Ketua Dewan Adat Wilayah Tabi, Yakonias Wabrar memastikan kesiapan pelaksanaan Konferensi 3 Dewan Adat Wilayah Tabi dan Konferensi I Pemuda Adat Tabi sudah hampir 100 persen.
Hal itu disampaikan Yakonias Wabrar usai memimpin rapat panitia pengecekan kesiapan acara, Senin (5/10/2026) Malam
“Baru saja panitia rapat dan mengecek semua kesiapan, mulai dari kesiapan hotel, dekorasi, konsumsi, penjemputan, tarian-tarian, sampai menyangkut peserta. Jadi hampir sebagian besar sudah siap,” ujar Yakonias.
Ia menjelaskan, agenda besar yang akan digelar dalam beberapa hari ke depan tersebut meliputi Konferensi Tiga Dewan Adat Wilayah Tabi dan Konferensi I Pemuda Adat Tabi.
Dalam kesempatan itu, Yakonias menegaskan dirinya bertanggung jawab penuh atas seluruh proses penyelenggaraan konferensi sebagai Ketua Dewan Adat Wilayah Tabi.
“Berharap panitia dan sekretariat mengkoordinasi dengan baik supaya acara ini jangan sampai terjadi hal-hal yang kurang menyenangkan, terutama dalam mendistribusikan delegasi,” tegasnya.
Yakonias juga menekankan soal legitimasi peserta. Menurutnya, delegasi yang berhak hadir adalah delegasi dari wilayah adat Tabi yang mencakup Kabupaten Keerom hingga Mamberamo, dan wajib mengantongi Surat Keputusan (SK) yang ditandatangani langsung oleh dirinya.
“Delegasi yang akan menghadiri ini harus punya saya, jangan punya orang lain. Dan harus melalui SK saya. Karena SK saya itu yang membuat konferensi ini ada, bukan SK orang lain,” ujarnya.
Ia mempertanyakan jika ada SK yang ditandatangani pihak lain di luar dirinya.
“Kalau orang lain yang tanda tangan SK itu, dia dari wilayah mana, Kami Wilayah adat Tabi ini yang menandatangani itu Yakonias Wabrar, anak dari Tabi ini,” pungkasnya.
Sementara itu, Yo Ondofolo Kampung Babrongko, Ramses Wally yang hadir sebagai peserta dengan hak suara mewakili DAS Buyaka berdasarkan SK dari Ketua Dewan Adat Tabi, mengingatkan agar konferensi tidak disalahgunakan.
“Saya menyampaikan kepada panitia, mari kita mengedepankan nilai-nilai adat, supaya apa yang kita kerjakan itu bermuara untuk kepentingan adat semata-mata. Ini bukan tempat partai politik untuk mencari posisi jabatan, tetapi pengabdian murni terhadap nilai leluhur,” ujar Ramses.
Menurutnya, dalam adat, yang menyaksikan bukan hanya orang yang hidup, tetapi juga para leluhur.
“Apapun yang kita kerjakan, besar atau kecil, adat mencatat secara baik. Leluhur dan moyang-moyang kita juga akan menilai apa yang kita kerjakan hari ini,” katanya.
“Sekali lagi saya ingatkan, tanggalkan semua ego dan bekerjalah dengan jujur dan setia untuk kepentingan adat. Sebab adat inilah undang-undang Tuhan. Di atas Ondofolo, Ondoafi dan kepala suku tidak ada orang lain, di atas mereka adalah Tuhan,” tuturnya.
Dalam adat Sentani, lanjut Ramses, ada istilah Mam yang bermakna bekerja berdasarkan perintah leluhur untuk menjaga, melestarikan dan melindungi hak-hak adat secara murni dan bertanggung jawab.
(Yan Mofu)











