Berita Papua, Jayapura — Insiden pelarangan Wakil Bupati Jayapura, Haris Richard Yocku, saat memasuki Stadion Lukas Enembe melalui gerbang A8 pada laga Persipura melawan PSIS Semarang, Sabtu (18/4/2026), masih menyisakan polemik.
Kini, barisan alumni STM Kotaraja angkatan 2002 menyatakan ketidakpuasan mereka karena Panitia Pelaksana (Panpel) Persipura belum juga menyampaikan permintaan maaf secara resmi kepada publik.
Ketua Alumni STM Kotaraja Angkatan 2002, Yusak Ayomi, mempertanyakan mengapa hanya Wakil Bupati yang bersedia melakukan klarifikasi, sementara pihak panpel masih bungkam.
Ia menegaskan bahwa permintaan maaf resmi sangat diperlukan demi mencegah masalah pada pertandingan mendatang.
“Dengan ini, bersama semua keluarga besar, kami menyampaikan agar Panpel Persipura segera melayangkan permohonan maaf secara resmi kepada masyarakat Kabupaten Jayapura atas peristiwa pelarangan Wakil Bupati Jayapura. Supaya pertandingan pada tanggal 2 Mei mendatang tidak menjadi masalah,” ujar Yusak Ayomi usai temu kangen Alumni STM Jayapura Angkatan 2002 pada Kamis malam (23/4/2026).
Sebelum desakan tersebut muncul, Wakil Bupati Haris Richard Yocku dan pihak Panpel telah mengadakan pertemuan di ruang kerja Wabup pada Selasa (21/4/2026). Dalam konferensi pers seusai pertemuan, Haris Yocku menegaskan bahwa insiden pelarangan tersebut murni disebabkan oleh kesalahpahaman, bukan penolakan dari panpel.
“Hari ini kami sudah klarifikasi. Apapun yang ditulis di media itu sebenarnya semua tidak benar,” kata Haris Yocku di hadapan awak media.
Ia menjelaskan, kedatangannya ke stadion bukan untuk menonton, melainkan untuk menandatangani dokumen yang diperlukan Bupati Jayapura. Ia tiba saat laga memasuki menit ke-68 babak kedua, ditemani dua anak dan sejumlah ajudan tanpa atribut kedinasan. Di tangannya, ia membawa dua tiket realbox.
Permasalahan bermula saat di gerbang A8. Haris Yocku meminta agar salah satu anaknya bisa ikut masuk menggunakan tiket realbox yang ia pegang. Alasannya, ia biasa tidak menonton di area realbox, melainkan turun ke area VIP bawah bersama masyarakat.
“Kebetulan kami biasa kalau masuk, kami tidak langsung nonton di realbox di atas. Kadang turun nonton sama masyarakat di VIP bawah. Jadi daripada tidak dipakai di atas, mending saya di bawah saja tapi anak saya juga bisa ikut,” ujarnya.
Namun, petugas tetap berpegang pada aturan: satu tiket untuk satu orang. Haris Yocku mengaku tidak memperpanjang situasi. Ia melepas tiketnya dan memasangkannya ke anak yang tertua sehingga anaknya bisa masuk, sementara ia mencari jalan lain karena harus menandatangani dokumen.
“Kami menghormati itu, tugas dari teman-teman panitia pelaksana,” tegasnya.
Haris Yocku juga membantah kabar yang menyebut bahwa kepala daerah tidak membeli tiket. Menurutnya, dirinya justru paling sering membeli tiket dan membagikannya kepada masyarakat.
“Kalau ada yang bilang kami tidak beli tiket itu salah. Kami tidak pernah ambil jatah. Justru kami paling sering beli tiket, bagi ke masyarakat,” ujarnya.
Sebagai Ketua KONI Kabupaten Jayapura, ia mengingatkan dua hal utama dalam mendukung Persipura: membeli tiket dan tidak melakukan tindakan anarkis.
“Itu baru kita bilang fans. Kalau tidak beli tiket, cuma masuk saja, itu sama saja, kita bukan fans,” katanya.
Hingga berita ini ditayang, Panpel Persipura belum mengeluarkan pernyataan permintaan maaf secara resmi.
Namun beredar isu masyarakat Kabupaten Jayapura masih menunggu klarifikasi resmi dari panpel agar pertandingan penutupan Persipura nantinya tidak terganggu oleh isu yang berkembang.
Pada kesempatan temu kangen tersebut Wakil Bupati Haris Yocku membeli baju original suporter Persipura dan dibagikan kepada seluruh Alumni STM tersebut sebagai tanda dukungan penuh terhadap tim Persipura Jayapura.
Sebagai informasi, laga penutupan Persipura dijadwalkan berlangsung di Stadion Lukas Enembe, Kampung Harapan, Sentani, Kabupaten Jayapura, pada Minggu (3/5/2026).
(Renaldo Tulak)











