Berita

Tokoh Adat Papua Pegunungan Imbau Demo Damai: Papua Barometer Indonesia, Jangan Anarkis Seperti 2019

0
×

Tokoh Adat Papua Pegunungan Imbau Demo Damai: Papua Barometer Indonesia, Jangan Anarkis Seperti 2019

Sebarkan artikel ini
Malaikat Alpius Tabuni, Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Papua Pegunungan sekaligus Ketua Asosiasi Kepala Suku se-Papua Pegunungan dari 5 wilayah adat (Lapago, Meepago, Tabi, Saireri, dan Animha).

Berita Papua, Jayapura — Malaikat Alpius Tabuni, Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Papua Pegunungan sekaligus Ketua Asosiasi Kepala Suku se-Papua Pegunungan di 5 wilayah adat (Lapago, Meepago, Tabi, Saireri, dan Animha), mengimbau mahasiswa dan masyarakat jika menyampaikan aspirasi secara damai tanpa tindakan anarkis.

Imbauan itu disampaikan Tabuni menanggapi sejumlah aksi demonstrasi yang berlangsung beberapa waktu terakhir di Kota Jayapura.

Ia mengingatkan agar aksi saat ini tidak terulang seperti gelombang demo pada tahun 2019 yang berujung pada kerusuhan massal.

“Beberapa waktu yang lalu, saya dengan Bapak Wakil Kota sudah sampaikan. Terima kasih, demo tidak perlu anarkis seperti 2019. Tapi lakukan demo damai, menyampaikan aspirasi damai yang disampaikan oleh anak-anakku mahasiswa-mahasiswi yang studi di Provinsi Papua,” ujar Tabuni di kediamannya di Kota Jayapura, Selasa (9/6/2026).

Tabuni menegaskan bahwa status Papua sebagai barometer stabilitas nasional harus menjadi perhatian semua pihak. Menurutnya, apa pun yang terjadi di Papua akan berdampak langsung pada seluruh Indonesia.

“Kami mau sampaikan kepada kita sekalian bahwa Papua itu miniaturnya Republik Indonesia, Papua itu barometernya Indonesia. Papua bikin apa, Indonesia ikut tergoncang,” tegasnya.

Oleh karena itu, ia meminta mahasiswa asli Papua Pegunungan yang menempuh studi di Jayapura untuk menjaga integritas, kepribadian, serta tujuan awal mereka merantau ke kota.

“Jaga tujuan yang Anda dari kampung datang ke Provinsi Papua ini, yaitu untuk sekolah. Orang sekolah yang merubah segala sesuatu. Orang sekolah yang melakukan suatu tindakan dan perubahan. Jika melakukan demo, harus menyampaikan secara profesional,” katanya.

Tak hanya kepada mahasiswa, Tabuni juga menyampaikan permintaan tegas kepada aparat keamanan. Ia meminta agar penanganan demo tidak dilakukan dengan kekerasan, melainkan mengedepankan dialog.

“Kepada pihak keamanan, saya minta tolong, minta dialog. Sebab kita ini menjaga kamtibmas di Tanah Papua supaya tanah Papua ini aman, damai, dan sejahtera. Kota Jayapura itu kota barometer, kota barang dan jasa,” ujarnya.

Salah satu keprihatinan mendalam yang disampaikan Tabuni adalah batalnya program Makanan Bergizi Gratis (MBG) untuk anak sekolah dasar, menengah pertama, dan menengah atas akibat aksi demo.

“Beberapa waktu lalu aksi demo terkait anak-anak sekolah yang SD, SMP, dan SMA tentang Makanan Bergizi Gratis, MBG itu akhirnya tidak dikasih, batal karena demo,” ungkapnya.

Ia memohon kepada semua pihak untuk memikirkan masa depan anak-anak Papua.

“Saya mohon ini untuk kecerdasan anak Papua, untuk memajukan membangun Papua ke depan. Supaya kita jaga stabilitas keamanan bersama,” pintanya.

Dalam kesempatan itu, Tabuni juga menyampaikan apresiasi kepada Wali Kota Jayapura yang dinilainya telah memberikan kelonggaran kepada masyarakat adat, berupa akses rumah gratis, tanah gratis, hingga lahan pemakaman gratis.

“Kami membantu pemerintah Bapak Wali Kota sebagai tokoh pemilik hak ulayat dan juga sebagai wali kota. Beliau sudah memberikan keleluasaan: rumah gratis, tanah gratis, kuburan gratis. Maka mari kita menjaga supaya kita di sini bisa melakukan sesuatu. Ada aksi, ada reaksi,” katanya.

Ia mengingatkan bahwa semua program kepentingan rakyat, termasuk pelayanan umum dan peribadatan, hanya bisa berjalan dengan tertib jika situasi kota aman dan damai.

Sebagai tokoh adat yang juga mewakili masyarakat Pegunungan, Tabuni memberikan peringatan realistis. Ia menyebut bahwa jika mahasiswa dan masyarakat asli gunung benar-benar turun melakukan demo massal, maka dampak ekonominya akan sangat besar.

“Kenapa saya sampaikan gunung? Karena kalau anak-anak gunung yang turun demo, semua toko-toko tutup, warung bakso tutup, semuanya tutup. Jadi saya minta tolong jangan kita turun demo. Sekolah baik-baik,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa perubahan untuk Papua tidak akan datang dari langit, melainkan harus dibangun oleh orang Papua sendiri.

“Kita merubah Papua ini tidak akan turun dari langit, tapi kita sendiri yang akan membangun diri sendiri. Pendeta, hamba Tuhan, saya minta tolong doakan ini. Ini kepentingan kita bersama supaya kita hidup rukun, saling menghargai, Bhinneka Tunggal Ika aktif dan tertib di Tanah Papua,” pungkas Tabuni.

(Renaldo Tulak)